We don’t need another hero

(Sebuah catatan kecil di Hari Pahlawan)

 

heroPas tanggal 10 November kemarin, sehabis kerja bakti saya menemani anak saya nonton film the cars. Kebetulan salah satu stasiun TV menayangkannya di jam istirarhat siang. Dan anak saya suka sekali kartun itu. Seolah nyetel dengan tema hari itu, yaitu Hari Pahlawan, alurnya bertutur dengan manisnya akan arti sebuah kepahlawanan. Kisah heroic sang lakon Lightening McQueen, yang rela memberikan kemenangan kepada lawan, menjadi sebuah diorama kehidupan mengingatkan arti sebuah episode kepahlawanan. Bukan gelar, ketenaran atau sebuah piala yang dia pikirkan, tetapi dalam situasi yang euphoric, dalam hitungan detik, ia memutuskan sesuatu yang abnormal. Penonton disuguhi sebuah makna lain dari kehidupan.

Dalam final balapan yang ditunggu-tunggu itu, dan kemenangan yang banyak orang idamkan,  ia malah berhenti pas sebelum menyentuh garis finish setelah meninggalkan lawan-lawannya, dan menyerahkan piala kejuaraan yang sudah dalam genggaman kepada lawan. Dalam keadaan hening seperti itu, tiba-tiba ia berbalik menolong jagoan Dinoco yang keluar lintasan. Didorongnya mobil itu sampai menyentuh garis finish, diringi gemuruh tepuk tangan penonton yang membahana. Sedangkan ia sendiri menjadi yang ketiga. Seolah tersihir, penonton pun memberikan aplaus yang luar biasa dengan sikapnya dan tak peduli lagi dengan hasil lomba. “Piala hanyalah kaleng kosong,” begitulah McQueen berkilah. Dia tak mau nasib serupa akan menimpa jagoan Dinoco seperti dr Hudson temannya. Akhir yang menyedihkan, di akhir karier kehidupannya. Karena itu penyelamatan harus dilakukan melebihi segalanya.

Allah berfirman; “Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS Al-Maidah:32).

Mungkin tak jauh berbeda dengan apa yang saya rasakan, begitulah gelar pahlawan disematkan kepada mereka yang berjasa dalam kehidupan ini, berbangsa dan bernegara. Bahkan di peringatan tahun ini dianugerahkan lagi tiga gelar pahlawan nasional kepada mereka yang berhak. Ketiga tokoh tersebut adalah Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat dari Yogyakarta, Lambertus Nicodemus Palar dari Sulawesi Utara dan Letjen TNI (Purn) TB Simatupang dari Sumatera Utara. Tetapi apalah gunanya gelar dan anugerah itu. Sebab sebanyak apapun gelar itu diberikan, tak banyak gunanya dalam kehidupan nyata sekarang ini. Sebab gelar pahlawan itu hanya diberikan kepada mereka yang sudah meninggal dunia. Maksud saya, mungkin semasa hidupnya ketiga orang itu berjasa besar bagi orang di jamannya, tetapi tidak bagi kita sekarang. Dan seandainya diberikan ketika mereka masih hidup, rasanya akan ditolak. Sebab itu bukan tujuan. Itu adalah keharusan, persis seperti yang dilakukan McQueen. Saat ini, yang dibutuhkan adalah orang-orang yang rela berkorban dan selalu menebar kebajikan bagi sesame, dimana saja berada dan kapan saja. Dan saya mendapati itu banyak di sekiling kita. Istri kita adalah pahlawan yang rela berkorban untuk kita. Anak-anak kita adalah pahlawan yang tiba-tiba hadir menolong kita. Tetanga kita adalah pahlawan yang selalu bersama-sama menjaga lingkungan. Maka tak salah, jika Tina Turner pernah melantunkan lagu “We don’t need another hero.” Yang kita butuhkan adalah kekinian untuk membangun masa depan. Bukan berkutat dengan masa silam. Bukan gelar- gelar pahlawan-pahlawan itu. Simaklah baitnya; so what do we do with our lives, ….., give it all or nothing. Mari berikan yang terbaik atau diam sama sekali.

Nah menyambung dengan kepahlawanan ini, rasanya kita perlu mencontek ide sederhana dari sebuah film; Pay It Forward. Film ini diangkat dari novel Catherine Ryand Hyde, yang dirilis pada 2000. Ceritanya mengenai guru Reuben St. Clair. Reuben meminta murid-muridnya yang baru berumur 12 tahun memikirkan ide praktis yang dapat mengubah dunia. Syaratnya, ide praktis ini bisa dilaksanakan. Proyek ini berhasil menyentuh sanubari Trevor, seorang muridnya.

Trevor adalah anak dari keluarga bermasalah. Nenek, ayah, dan ibunya punya masalah dengan alkohol. Ayahnya lalu pergi meninggalkan istri dan anaknya. Saat itu, ibu Trevor berjuang untuk tak lagi mabuk. Ia bekerja setengah mati guna menciptakan rumah ideal untuk Trevor. Ide Trevor sederhana sekali: “Pay It Forward”.  Trevor mengusulkan, kalau ada orang berbuat baik pada diri Anda, daripada membalas kebajikan orang, apa salahnya meneruskan perbuatan mulia itu kepada tiga orang lainnya. Kalau saja tiga orang itu berbuat serupa, maka akan terjadi kebajikan berantai. Dalam dua minggu, Trevor menghitung, akan terjadi lebih dari 4 juta kebajikan. “Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS An-Nisaa:85)

Novel ini kemudian dibuat filmnya, yang dibintangi Helen Hunt, Haley Joel Osment, dan Kevin Spacey. Mereka aktor, aktor cilik, dan aktris berbakat yang membintangi American Beauty, The Sixth Sense, dan Twister. Film ini begitu menggugah, hingga akhirnya berdiri Yayasan Pay It Forward. Yayasan itu kini beroperasi di 300 sekolah di Amerika, Australia, Kanada, dan beberapa negara Asia.

Sehabis menonton Pay It Forward yang cukup mengharukan itu, akhirnya saya setuju bahwa kita memang tak butuh pahlawan baru, tapi justru sukarelawan atau inovator baru untuk meneruskan dan memutar nilai-nilai luhur roda kehidupan ini terus berlanjut, seperti Trevor. Kita tak butuh pidato, cita-cita atau sebuah program belaka, tapi butuh aksi nyata. Di mana pun kita berada, entah di kantor atau di rumah, bila menerima kebajikan, marilah meneruskannya kepada tiga orang lainnya, dan seterusnya. Bila ini terjadi, maka akan ada jutaan kebajikan beredar di antara kita. Kalau saja kebajikan berantai ini kita jalankan selama setahun, barangkali berbagai permasalahan yang mengimpit kita akan sirna satu demi satu.

We don’t need another hero bukan berarti tidak menghormati para pahlawan yang berjuang demi bangsa dan negara. Tetapi lebih kepada spirit; ayo jadilah pahlawan kebajikan di sekeliling kita.  Tidak perlu gelar, tidak perlu pengakuan. Semua kita bisa melakukannya dengan baiknya.

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS AN-Nisaa:114)

 

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment