Waqshid Masy-yiika

marahKemarahan dimana-mana. Di rumah, di sekolah, di kantor, di jalan – jalan terdapat langkah wajah-wajah kemarahan. Bahkan di tempat pengajian pun, yang seharusnya diselimuti sayap-sayap rohmat malaikat dan kedamaian, ada. Beberapa hari yang lalu, heboh video seorang ustadz yang marah dengan menjepit kepala seseorang di depan jamaah. Apalagi di layar kotak bernama TV, hampir tiada henti. Baik di negeri tercinta ini, maupun belahan bumi lainnya. Tersaji lengkap. Kemarahan seolah menjadi perlombaan, tuntutan dan tuntunan. Na’udzubillah.

Suatu hari, seorang mendayung perahu mengayuh ke arah hulu. Tiba-tiba ia terkejut melihat ada perahu meluncur deras sekali dari arah hulu tepat ke arah dirinya. Tentu saja ia berteriak: “Awas!”. Dan tabrakan pun tak terhindarkan. Melihat dirinya nyaris mati, perahunya retak, maka marahlah dia sekencang-kencangnya dengat kata-kata sekenanya. Setelah lelah marah, ia mencoba melihat wajah manusia yang ceroboh tadi. Ternyata, tidak ada manusia dalam perahu tadi.

Betapa cepatnya manusia marah. Begitu mudahnya marah meletup. Bahkan oleh sebab yang kecil, lagi sepele. Bahkan ketika informasi belum jelas, kemarahan sudah menghadang. Baru kabar burung saja, kemarahan sudah mengguncang. Kadang, urusan yang bisa diselesaikan dengan baik-baik saja, ternyata perlu marah untuk menyelesaikannya. Ujungnya, suasana menjadi tegang, kedamaian terbang entah ke mana. Oleh karena itulah, di setiap sudut-sudut kehidupan,  banyak guru mengajarkan pentingnya menahan amarah, sehingga bisa melangkah  indah penuh kedamaian.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan marah!” [HR al-Bukhâri].

Banyak orang mencari kedamaian. Kebanyakan mengira kedamaian baru diperoleh setelah  keinginan  terpenuhi. Pendapat ini tidak salah. Namun pada kenyataannya, sedikit yang menemukan kedamaian dengan cara ini. Terutama karena keinginan terus bergerak naik sejalan dengan tercapainya sejumlah keinginan. Tatkala keinginan memiliki motor tercapai, muncul keinginan membeli mobil. Setelah menjadi manajer, muncul keinginan menjadi direktur. Keinginan tak ada akhirnya. Kehidupan menjadi lelah karena terus berkejaran.

Dari Aisyah Radhiyallahu anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tenanglah wahai Aisyah! Allah menyukai hal itu. Bersikap ramah dan sabarlah dalam setiap perkara.” (HR Bukhari)

Terinspirasi dari sini, sebagian guru-guru kedamaian kemudian bertutur lembut mengajarkan cara lain yakni belajar menemukan kedamaian dengan “menyederhanakan langkah” – waqshid masy-yiika. Pengertian “menyederhanakan langkah” di sini adalah menemukan langkah-langkah sederhana dari setiap pengalaman kekinian dan pencapaian, sehingga wajah kedamaian mengemuka. Banyak kedamaian hilang karena cepatnya orang melangkah kemana-mana. Tujuan tak kepegang, kedamaian menghilang. Tak mau sebentar berhenti untuk instrospeksi dan membangun diri. Maka, para tetua jawa dengan bahasa lain mengingatkan; alon-alon waton kelakon. Bukan berdiam diri, tetapi berbenah, berbekal diri dan melangkah lagi dengan pasti. Dengan kesabaran dan keramahan.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dikabulkan (doa) bagi hamba asalkan tidak tergesa-gesa.”

 

Banyak orang jenuh bekerja. Langkah-langkah kerja itu membosankan. Ia lawannya rekreasi. Lelah, capek,  serba-salah, kalau benar atasan diam, bila salah atasan mendamprat. Tatkala pelayanan baik, pelanggan melenggang, saat pelayanan salah sedikit saja, maka makian menghadang. Itulah gambaran kerja yang  dibikin  banyak manusia dengan ritme fast food. Pencari kedamaian lain lagi. Langkah kerja disederhanakan. Kerja bukan tong sampah yang berisi keluhan. Kerja menyembunyikan berlimpah peluang untuk menemukan buah kedamaian. Perhatikan setiap tugas yang datang. Dengan sedikit cara pandang positif dalam menyederhanakan langkah, terlihat bahwa kerja adalah cermin kepercayaan atasan ke kita. Tanpa rasa percaya atasan tidak mungkin ada kerja. Dengan demikian ada kedamaian dalam setiap tugas yang datang. Jangan dibuat ruwet dan jangan dibuat repot. Just do it. Banyaknya kemarahan atasan, banyaknya keluhan pelanggan sebagai contoh lain, adalah terbukanya jalan sederhana menuju pintu perbaikan diri. Tanpa kemarahan atasan, tanpa keluhan pelanggan, kita semua seperti petinju tanpa lawan. Datar dan bosan sekali kerja jadinya. Dan di situlah berkahnya, ada langkah sederhana kedamaian di balik kemarahan atasan dan keluhan pelanggan.

Gaji dan bonus yang tidak memuaskan kerap menjadi bom yang menghancurkan kedamaian. Dari segi pekerja, judul yang diambil adalah boss pelit, pengusaha yang mau untung sendiri. Dari segi atasan dan pengusaha, judulnya adalah penghematan, investasi masa depan. Dan lenyaplah kedamaian dari dunia kerja. Padahal, dengan sedikit rasa syukur dan kerelaan untuk berhenti membandingkan kehidupan dengan mereka yang lebih tinggi, gaji dan bonus sekecil apapun bisa menjadi sumber kedamaian. Dalam bahasa seorang guru, we can be prosper at any level of income. Makan, pakaian, penampilan, kendaraan semuanya bisa disesuaikan dengan tingkat penghasilan. Memaksa memperbanyak langkah agar selalu lebih baik dibandingkan orang lain, itulah bom penghancur kedamaian yang sesungguhnya. Apalagi jika dibarengi dengan gelegar kemarahan.

Nah, yang mau diceritakan dengan seluruh ilustrasi ini sebenarnya sederhana, ada peluang kedamaian di setiap langkah kehidupan. Dan kedamaian akan terdekap, kesembuhan akan mendekat, bila kita rajin melatih diri untuk memandang secara mendalam: tidak terlalu mudah dibawa lari kemarahan dan menyederhanakan langkah dalam pencapaian. Selanjutnya, rajinlah berbagi senyuman. Terutama karena senyuman adalah tanda bahwa seseorang sudah menjadi tuan, bukan korban kehidupan.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment