SKB (Seri Keluarga Bahagia) – Satu

keluarga bahagiaTerus terang, tulisan ini terinspirasi berat sebuah lagu Vierra yang berjudul Bersamamu. Pertama kali mendengar liriknya, terbayang – bayang kebiasaan yang sering saya lakukan kepada istri; memandangi wajahnya. Maka, tak pelak saya sering memutar ulangnya. Dan begitulah nyatanya, ada perasaan senang campur bangga ketika melakukannya. Apalagi ketika mendapati wajah istri berseri. Simaklah liriknya;

Memandang wajahmu ceria,
Membuatku tersenyum senang,
Indah dunia.

Tentu saja kita pernah,
Mengalami perbedaan,
Kita lalui.

Dalam perjalanannya sebuah rumah tangga tak terlepas dari perbedaan dan perselisihan. Seiring berjalannya waktu dan kedewasaan – antara suami dan istri, kadang perbedaan dan perselisihan itu bisa dilewati dengan baik. Dan itu akan tampak dalam wajah keseharian yang berseri – seri. Bercahaya. Enak dipandang. Dan aura menyejukkan. Kuncinya, saling pengertian dan selalu mengontrol diri agar tidak serabutan dalam bersikap dan bertindak. Coba cermati kembali Sabda Nabi SAW berikut ini.

Dari Abu Huroiroh ra. ia berkata, “Dikatakan kepada Rasulullah SAW manakah perempuan yang baik?” Beliau menjawab,”Yaitu perempuan yang menyenangkan pada suami ketika dipandang, dan mentaatinya ketika diperintah dan tidak menyelisihi di dalam diri dan hartanya dengan apa – apa yang dibenci oleh suami.” (Rowahu an-Nasaa’i Kitabun Nikah)

Banyak orang yang memahami dalil ini dengan sikap yang kurang proaktif. Lebih banyak menunjuk hidung pihak lain daripada mengoreksi diri sendiri. Banyakan menuntut. Banyak orang yang masih beranggapan bahwa hadits ini ditujukan khusus buat para isteri. Sebab obyek yang dibicarakan memang jelas, yaitu kriteria perempuan yang baik. Adalah kewajiban istri agar selalu enak dipandang suami. Berdandan, bersolek, macak untuk sang suami. Itu adalah kewajibannya, tanpa mau tahu bagaimana membuat istri bisa enak dipandang dan bagaimana cara memandangnya. Bagaimana mau berdandan kalau tidak ada perlengkapan buat berdandan. Bagaimana istri mau enak dipandang, jika sudah berdandan mau kerja, eh sang suami minta dilayani. Walaupun istri mau melayani tapi suasananya pasti tidak sedap dipandang. Sebab istri merasa terpaksa, antar dosa, nggak taat suami dan beban terlambat, buru – buru, macet serta kena marah atasan.

Disinilah letak proaktif yang sejatinya merupakan tugas para suami yang tak kalah besar dan menentukan itu. Dan itu semua tersirat dalam redaksional di atas. Apalagi jika dikaitkan dengan tanggung jawab dan kepemimpinan seorang suami. Jadi, jangan serta – merta menyalahkan istri, ketika sang suami menjumpai istrinya berwajah muram, tak enak dipandang. Barangkali, sebab itu semua adalah kelakuan kita – para suami – yang telah membuatnya durja. Pulang terlambat nggak memberitahukan. Ada acara mendadak tak kirim kabar. Atau punya agenda lain tersembunyi, padahal sudah ada janji dengan istri. Dan masih banyak contoh kecil yang lain. Atau – tanpa sengaja – melukainya bahkan mungkin sampai menganiayanya. Tapi kita sering tak merasa. Dalil itu sering menutupinya sehingga tuntutan didahulukan sebelum tuntunan diberikan. Padahal Rasulullah SAW memberikan teladan, Dari Aswad ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Aisyah ra., “Bagaimana Nabi berbuat – bertindak – tanduk di dalam rumahnya?’ Aisyah ra. menjawab, “Beliau ada dalam kerepotan keluarganya, maksud Aisyah yaitu, melayani keluarganya, maka ketika datang waktu sholat Beliau keluar untuk sholat.” (Rowahu al-Bukhori K. an-Nafaqoot)

Kembali pada syair di atas, kata – kata itu mengingatkan untuk bersyukur kala menghadapi situasi yang menyenangkan. Mendapati wajah isteri ceria adalah anugrah. Menenteramkan hati. Adalah sebuah rejeki mendapati wajah isteri berbinar. Laksana rembulan sejuk bersinar. Dan selanjutnya pun jadi tahu, jika melihat wajah isteri tidak berpadu – padan dengan keceriaan, biasanya ada yang tidak beres dengannya. Disitulah letak kebahagiaan selanjutnya. Memandang wajah isteri adalah cermin situasi yang tengah melanda rumah tangga yang sebenarnya. Seraya membuka komunikasi untuk segera menyelesaikannya. Maka seolah nyambung, lagu itu diakhiri dengan referen;
………………… Ku kan setia menjagamu, bersama dirimu…dirimu, Sampai nanti akan slalu bersama dirimu…,

Ya, begitulah seharusnya kehidupan berumah tangga. Ada perbedaan. Ada perselisihan. Ada riak dan dinamika kehidupan yang harus dimainkan. Tak lain, semua itu adalah jalan menuju kebahagian itu sendiri. Sebagaimana Allah firmankan dalam KitabNya, “Dan gaulilah mereka istri dengan baik.” (QS An-Nisaa : 19). Pituah yang padat, penuh dan berisi. Tinggal kita memainkannya dalam kehidupan sehari – hari sesuai dengan situasi dan kondisi. Yang semua itu juga atas perkenanNya.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment