Shio

“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tidak pula mencela/membenci kepadamu.” (QS Adh-Dhuha 3).

shioAdem rasanya membaca ayat ini. Terutama di kalimat terakhir; tidak mencela atau tidak membenci. Bukan bermaksud menyamakan diri dengan posisi Nabi SAW lho, tetapi meneladani pernyataan Allah dari kalimat ayat itu sendiri. Di tengah hiruk – pikuk kehidupan dengan pasang-surutnya seperti saat ini, ayat ini seolah menjadi pelepas dahaga. Pas, sebagai tempat mengadu. Seberapa brengseknya manusia, Allah tidak akan pernah meninggalkannya. Kecuali, manusia itu sendiri yang lari dariNya. Terutama di kala tertimpa musibah atau keimanan sedang turun. Gonjang – ganjing menimpa. Maunya menyenangkan semua pihak. Ternyata, itu pekerjaan yang tidak gampang.

Banyak orang suka mengukur sepatu orang lain dengan kaki sendiri. Hasilnya, kebanyakan meleset. Jangankan mengukur kemauan orang lain, mengira-ngira keinginan anak sendiri pun sulit. Apalagi mengaturnya, bisa terbentur tembok derita. Harus ekstra hati-hati dan penuh kesabaran. Banyak anak sekarang yang merasa –padahal cuma merasa– mandiri dan punya pelor kata bantahan: ”Ini bukan zamannya diatur-atur.” Oalahh,,,,! Maka, ketimbang sakit hati diomeli anak, banyak orang tua yang memilih mengurut dada. Mengalah, sambil berdoa. Apa boleh buat. Bahkan, menurut istilah Gus Dur dalam sebuah talkshow di radio, yang meminjam istilah Yusuf Hasyim, pamannya: ”Kami ini memang generasi ‘sialan’.” Dulu “dijajah” orangtua, kini giliran “dijajah” anak.”

Tetangga saya memberikan contoh yang menarik. Dulu jaman masih kecil, jarang makan paha ayam. Alasannya, karena memang tidak ada. Giliran sekarang bisa beli ayam, dan hidup mandiri, ternyata juga tidak kebagian.  Pasalnya, ketika melihat ayam di meja makan mau diambil, isterinya dengan sigap berteriak, ”Eitt,,, Pak,  jangan dimakan.  Anakmu masih mau!” Tangan yang terlanjur ngatung pun, terpaksa belok ambil yang lain. Ini contoh kecil saja. Yang lain seabrek jumlahnya.

Pada tataran yang lebih tinggi lagi, bisa kita lihat kemelut di partai yang sedang berkuasa saat ini. Ketumnya sedang dibidik sana-sini. Kadernya tengah dijerat pasal – pasal korupsi. Dan prosesnya begitu rumitnya, laksana sandiwara saja. Tidak tahu kapan berakhirnya. Kemana jluntrungnya. Ada intimidasi. Ada sumpah – serapah. Sumpah pocong. Ada pernyataan kosong. Ada isapan jempol. Dan seabrek pembenaran dan pembelaan diri, kalau dirinya itu baik dan tidak bersalah. Entah apalagi. Dan semua itu tersaji luar biasa hari demi hari. Institusinya sendiri – KPK – dipetacompli. Seperti tersandra. Tampaknya ingin memuaskan semua pihak. Dan perselisihan pun mulai mengemuka. Sebagai tanda bahwa sedang terjadi apa-apa.

Di luar itu pun serupa. Lihat PSSI. Tak putus dirundung konflik. Dulu sibuk menurunkan Nurdin Halid, sekarang sibuk rebutan jatah. Bagaimana mau maju sepakbola kita? Lihatlah kondisi jalanan. Kecelakaan dimana – mana. Orang tak tahu harus mengadu kepada siapa. Kepolisian, kejaksaan dan kehakiman pun serupa. Seharusnya mereka menegakkan hukum, tetapi malah memainkannya. Seolah menghilangkan akal sehat. Yang pinter ngomong, yang banyak duit, bisa terbebas seenaknya. Perkara yang gampang jadi susah. Sedangkan yang susah, jadi bancaan bersama. Atau, jangan-jangan semua ini terjadi karena kita kurang melakukan brain exercise alias senam otak agar pikiran bisa jernih sempurna untuk mencerna masalah. Senam otak diperlukan agar kita bisa berpikir sederhana, tidak mbulet dan ngeyel. Plus kesadaran. Waras. Legowo menerima setiap keadaan sebagai hasilnya.

Walhasil, menyenangkan semua orang memang tidak mudah. Tergantung kepentingan dan persepsi masing-masing. Kita bisa memaklumi, karena di dunia ini manusia dikelompokkan begini: manusia mesin (homo mechanicus), manusia berpikir (homo sapiens), dan manusia yang mengerti makna kehidupan (homo ludens). Freud dengan teori psikoanalisisnya bahkan memandang manusia sebagai homo volens, makhluk yang perilakunya dikendalikan oleh keinginan bawah sadarnya. Menurut teori ini, perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga pilar kepribadian; komponen biologis, psikologis, dan sosial; atau komponen hewani, intelektual, dan moral. Beruntung bagi kita yang mempunyai sandaran lebih dalam, dimana selalu mengingat Allah dalam setiap pengamalan. Harapannya, kalau memang tidak tersangkut dan berurusan lebih baik diam. Tidak mencela dan tidak membenci. Cukup berdoa, penjagaan diri.

Walau begitu kita tidak boleh berputus asa. Orang bilang sekarang ini tahun Naga. Waktunya perubahan. Waktunya menyemai harapan baru. Itu menurut kalender China, yang memiliki 12 shio. Yaitu; Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi. Sebenarnya ini adalah sebuah sindiran. Jika seseorang tidak beriman dan beramal sholih dalam hidup ini, maka mereka hanya melewati tahun laksana  binatang saja. Tak lebih. Dan itu disimbolkan dalam shio.

Allah berfirman; Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS Al-Furqon : 44)

Atau, segala carut-marut yang menerpa bangsa ini, karena di Indonesia cuma berlaku empat shio? Maka siklusnya cepat dan tak kunjung berhenti. Di kita dengan dasar yang tidak jelas dan asal adop saja, kita hanya mengenal sio kelinci (percobaan), sapi (perahan), kambing (hitam), dan harimau (jadi-jadian)? Masya Allah. Dan, saya pun tidak tahu, Anda tergolong yang ber-shio apa? Maaf, saya terpaksa asyik sendiri, karena perlu segera senam otak. Alias sedang tak mampu berpikir jernih. Gara – gara shio.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment