Seperti Apa Puasa Kita ?

puasaDi dalam Kitaabu ash-Shoum Imam Bukhory meriwayatkan hadist dari jalur Abu Hurairah r.a sebagai berikut. Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : Sesungguhnya Rasululloh SAW telah bersabda : ”Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat ( untuk menerima ) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya.”

 

Hari pertama puasa kemarin istri saya bercerita. Sambil meninabobokkan dari dalam rumah, istri saya menyimak pembicaraan anak-anak yang bermain di teras depan rumah. Maklum, karena awal puasa biasanya anak sekolah libur. Dan untuk mengisi waktu luang, pagi buta mereka udah ngumpul sambil ngrumpi ngalor – ngidul dan bermain ala kadarnya. Maklum, namanya juga bocah. Nah, dari obrolan mereka terekam dialog yang membuat kita orang yang tua-tua pengin ketawa.

 

Pada awalnya mereka berbicara perihal dirinya. Tepatnya ’nyombong’ kalau dirinya mengerjakan puasa. Tapi, sebentar kemudian ada yang tersinggung karena rebutan mainan atau tindakan yang lain. Akhirnya keluarlah kata umpatan. ”Bego loh!”

Anak yang lebih besar mengingatkan, ”Hey, puasa – puasa nggak boleh ngomong bego.”

Anak yang lain nimpali, ”Batal loh puasanya……”

Tapi si anak yang diingatkan ternyata nggak ngerti apa hubungan puasa dengan umpatan bego. Karena biasanya nggak ada yang melarang. Makanya anak yang merasa sudah mengerti berlagak menjelaskan. Katanya, ”Orang yang puasa nggak boleh ngomong bego, tololll,,,,,!”

 

Istri saya tertawa cekikikan demi mendengar penjelasan itu. Ngomong bego tidak boleh, tapi malah pakai tolol segala. Setali tiga uang.  Itulah anak – anak.

 

Bagi kita yang sudah dewasa tidak ada permasalahan dengan menahan lapar dan dahaga berpuasa. Terkadang yang susah adalah menahan diri dari perkataan dusta dan perbuatan dusta seperti hadist di atas. Apalagi yang kesehariannya sudah menganggap biasa hal-hal itu. Sungguh mengkhawatirkan. Sebab ancamannya tidak lain adalah tidak diterimanya puasa kita. Sayang bukan?

 

Nah, jika belum bisa melaksanakan hadist di atas berarti puasa kita setingkat dengan puasa anak – anak dong? Padahal kita-kita ini udah dewasa? Ya, itulah garis ketentuannya. Untuk menghindari semisal kejadian di atas, mari kita teliti seperti apa puasa kita.

 

Untuk gampangnya, saya mencoba menelaah puasa dalam 4 tingkatan. Adapun puasa tingkat pertama adalah puasa secara fisik. Ini hanya menjaga apa yang masuk ke dalam mulut kita, dan sayangnya ini termasuk puasa yang tidak berpahala, kecuali hanya lapar dan pahala. Ingat sebuah hadist: dari Abi Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda: “Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan banyak orang yang beribadah pada malam hari namun tidak mendapatkan darinya kecuali hanya begadang saja”. (Rowahu Ibnu Majah)

 

Puasa tingkat kedua adalah puasa secara sosial. Ini berkaitan dengan perilaku kita kepada orang lain di sekitar kita, terutama menjaga apa yang keluar dari mulut (ucapan kita). Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah SAW besabda; “Sesungguhnya puasa itu perisai. Maka jika salah seorang dari kamu berpuasa, jangan berkata keji dan kasar. Kalau dia dicela atau hendak diperangi seseorang, hendaklah ia berkata, sesungguhnya aku sedang berpuasa” (HR Bukhari – Muslim)

 

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW ia bersabda : ”Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan serta tindakan bodoh (jahil), maka tidak ada bagi Allah hajat ( untuk menerima ) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya.”(Rowahu Bukhary).


Apa yang masuk ke dalam mulut amat perlu kita jaga, karena inilah sumber penyakit. Kita menjaga agar tak makan makanan yang beracun, yang tak higienis, maupun yang berkolesterol tinggi. Namun sayangnya, kita sering mengabaikan ”makanan-makanan” yang masuk ke dalam kepala kita. ”Makanan-makanan” itu sebenarnya tak kalah beracunnya, sangat berbahaya dan mengandung virus yang mematikan. Nah, hakikat puasa tingkat ketiga adalah puasa emosional yaitu menjaga pikiran dari virus-virus yang berbahaya. Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Puasa itu perisai, maka jangalah ia berkata-kata keji dan jangan berbuat kebodohan. Jika ia dimusuhi atau di caci maki oleh seseorang maka katakanlah, “Sesungguhnya saya ini sedang berpuasa”. (dua kali). Demi Dzat yang diriku di tangan-Nya sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi”. Ia meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, sedang kebaikan itu (dibalas) dengan sepuluh kali lipat”. (HR. Bukhari 2 : 226)

 

Tingkatan keempat adalah puasa spiritual. Intinya adalah merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita. Disebutkan; ada dua kesenangan bagi orang yang berpuasa yaitu ketika berbuka dan ketika bertemu dengan Tuhannya. Inilah sebenarnya tujuan utama puasa yaitu menjadi orang yang taqwa – cinta kepada Tuhan – dekat dengan Allah. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda: Allah berfirman, “Setiap amal anak Adam itu untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. Puasa itu perisai. Apabila salah seorang diantara kalian berpuasa pada suatu hari, maka janganlah berkata keji dan jangan berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci makinya atau menyerangnya maka hendaklah ia mengatakan, “Sesungguhnya saya sedang berpuasa”. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh bau mulutnya orang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih harum dari pada bau kasturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang dirasakannya, yaitu apabila ia berbuka, bergembira karena bukanya, dan apabila ia bertemu dengan Tuhannya, bergembira karena puasanya”. (HR Bukhari 2 : 228)

 

Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Puasa itu perisai, maka jangalah ia berkata-kata keji dan jangan berbuat kebodohan. Jika ia dimusuhi atau di caci maki oleh seseorang maka katakanlah, “Sesungguhnya saya ini sedang berpuasa”. (dua kali). Demi Dzat yang diriku di tangan-Nya sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi”. Ia meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, sedang kebaikan itu (dibalas) dengan sepuluh kali lipat”. (HR. Bukhari 2 : 226)

 

Dengan pemahaman seperti di atas, kita bisa mengukur dimana posisi kita. Harapannya semua bisa di posisi ke 4, minimal di tingkatan ke 3 lah. Karena pikir punya pikir, rasanya hanya puasa saja yang memberikan jalan kemudahan beramal, sampai-sampai Allah sendiri yang nanti akan membalas pahala ibadah puasa. Puasa memang ibadah yang istimewa, lain dari yang lain. Untuk itu, mari sempurnakan puasa kita, selagi ada waktu dan kita mampu.  Why not?

 

Semoga bermanfaat.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment