Sego pecel (Nasi Pecel)

sego pecelKemarin sore, saya menyempatkan diri ikut latihan badminton di Hall A Senayan. Entah kenapa, sore itu rasa lapar begitu menyerang perut saya. Sambil menunggu kontingen datang, saya sempatkan cari pengganjal perut. Ketemulah lontong sayur di salah satu ujung tempat parkir depan JCC. Alhamdulillah perut tidak mules-mules lagi.

Sekembali dari JCC, telah saya dapati teman-teman sudah siap-siap bermain dan melakukan pemanasan. Namun beberapa teman ternyata mengalami hal yang sama dengan saya. Lapar. Akhirnya mereka berjalan keluar tempat latihan untuk cari makan. Beruntung mereka mendapati penjual sego pecel yang baru datang dan mangkal di depan Hall A tempat kami latihan. Sego pecel pun mereka serbu untuk membunuh rasa lapar.

Bukan sego pecelnya yang menarik. Bukan penjualnya yang menarik. Justru komentar teman-teman sayalah yang membuat topik sego pecel ini menarik.

Salah satu teman saya bilang, “Kok, masih ada ya di Jakarta yang jual sego pecel murah sekali. Nasi plus sayur yang ranum dan sambel pecel, ditambah 2 rempeyek hanya Rp 3.500,-. Kenapa nggak Rp 5.000,- atau Rp 7.000,-. Kan pantes harga segitu?”

Teman yang pertama kali beli nimpali, “Saya sih sebenarnya nggak pengin makan, tapi kasihan melihat si Ibu itu. Jadi deh terpaksa makan.”

Yang satunya lagi nyahut, “Tadi mau saya bayar Rp 10.000, tapi ternyata dibalikin lagi.

Saya yang sedari tadi mlongo, akhirnya angkat bicara, “Itulah Mas contoh orang yang sederhana. Dia menjiwai hidup apa adanya. Menurut dia harga jual pecel segitu itu ya sudah pas untuk ukuran dia. Sudah untung. Kan pangsa pasarnya bukan ke sampeyan-sampeyan. Kebetulan saja kali ini ketemu sampeyan. Ngomong-ngomong, kenapa tadi diterima kembaliannya. Kalau kasihan kenapa nggak di sodaqohin saja tadi uangnya. Itu namanya baru kasihan.”

Iya, ya,” gumam mereka.

Itulah potret keseharian kita. Kita hanya mengandalkan perasaan, tanpa melakukan apa-apa. Bilang kasihan tapi tidak berbuat sesuatu sebagai tanda empatinya. Ini masih mending, kadang banyak kita jumpai orang-orang yang sudah hilang rasa ibanya. Sebab melihat objek yang menyentuh perasaan sebagai komoditas. Di perempatan dan jalan-jalan sering kita jumpai peminta-minta dengan menyodorkan orang-orang yang cacat. Melihatnya kasihan, tetapi mau ngasih juga mikir-mikir dulu. Sebab keburu perasaan dijejali hal-hal yang berbau komoditas. Giliran menemui yang benar-benar harus ditolong sudah hilang rasa iba itu. Nasib.
Tapi bagaimana pun, rasa lapar merupakan salah satu pintu masuk syetan untuk menggoda anak Adam. Selagi masih punya perut berarti besar kemungkinan akan merasa lapar. Oleh karena itu hati-hatilah. Dikisahkan Nabi Yahya AS pernah berjumpa iblis yang sedang membawa alat pancing. Bertanya Yahya AS, ”Untuk apa alat pancing itu?’
Inilah syahwat untuk mengail anak Adam.
Adakah padaku yang dapat kau kail?
Iblis menjawab, ”Tidak ada, hanya pernah terjadi pada suatu malam engkau makan agak kenyang hingga kami dapat menggaet engkau sehingga berat untuk mengerjakan shalat.
Yahya AS terkejut. ”Kalau begitu aku tak akan mau kekenyangan lagi seumur hidupku.’

Suatu ketika Imam Ghazali mengutip ucapan Abu Bakar Shiddiq RA dalam urusan makanan. Begini, ”Sejak aku memeluk Islam, belum pernah aku mengenyangkan perutku karena ingin dapat merasakan manisnya beribadah, dan belum pernah aku kenyang minum karena sangat rindunya aku pada Ilahi.

Jadi, makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang, begitu pesan Baginda Rasul SAW. Artinya ketika kita makan jangan dicampuri rasa iba atau rasa lain sebuah fantasi. Tapi hadapilah kenyataan yang ada di depan mata anda. Seraya berdoa dan syukur bahwa kita masih diberi rejeki oleh Allah. Ketika makan pecel, makanlah pecel. Baru setelah makan kita berikan rasa iba kita dengan membayar tanpa kembalian. Dijamin uang anda pasti akan dikembalikan. Sebab orang kecil biasanya masih melekat erat dengan kejujuran. Sebuah barang langka di tengah kota metropolitan.

Sebagai penutup ingatlah aturan mengisi perut berikut ini. ”Tidak ada bejana yang diisi anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam untuk menegakkan tulang punggungnya. Sepertiga perutnya untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR At Tirmidzi).

Ngomong-ngomong, sebenarnya kita hanya sering lapar secara jasmani. Rasa lapar yang hilang ketika ketemu sego pecel, lontong sayur, nasi uduk, dan lain-lainnya. Sebagai penyeimbang, harusnya kita juga harus sering lapar secara rohani yang dapat kita penuhi dengan banyak dzikir di malam hari, sholat malam, cari ilmu – nderes dan rajin ibadah sepanjang waktu. Atau jangan-jangan rasa lapar rohani kita telah tertutupi rasa lapar jasmani kita, sehingga tak pernah merasakan betul apa itu lapar secara rohani? Jika demikian halnya, maka tak lebih kualitas hidup kita hanya setingkat dengan sego pecel. Jadi siapa yang perlu dikasihani; si tukang pecel atau kita yang makan sego pecel.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment