Qiyamu Lail (Bangun Malam)

qiyamul lailPada perang Salib, Sultan Sallahuddin Al-Ayyubi memilih mereka yang bangun malam sebagai barisan mujahidin garda depan. Orang – orang yang rajin bangun malam itu berhadapan langsung dengan musuh. Hasilnya pasukan muslimin memperoleh kemenangan gemilang mengalahkan pasukan salib. Kemudian kedamaian datang bersamanya.

Pada jaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ia berkata: “Bagaimana mata ini dapat tertutup rapat dan tenteram sedangkan ia tak tahu di mana kelak ia akan kembali di antara dua tempat.” Setiap malam, ia bangun bertahajud kepadaNya dan menyendiri denganNya sehingga basah tempat sujudnya oleh air mata. Kegigihan sholat malamnya tiada tara, hasilnya masa kekhalifahannya yang cuma 2,5 tahun, membawa kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Bahkan mencari orang yang berhak menerima zakat pun susah ditemukan kala itu. Dua setengah tahun yang sempurna, serasa 25 tahun lamanya. Sekarang, banyak kalangan merasa umat islam tengah terpuruk. Padahal, dulu islam pernah berjaya, baik di kancah ilmu pengetahuan maupun peradaban. Banyak yang bertanya, kenapa hal ini bisa terjadi? Dan berbagai usaha pun dilakukan oleh berbagai kalangan untuk meraih kembali kejayaan itu. Ada yang menggebu dengan ide kekhalifahan. Ada yang berseru dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Ada pula yang berusaha menguasai jalur – jalur ekonomi dan informasi. Namun, semua itu serasa menemui jalan buntu. Satu hal yang banyak mereka lupakan dalam memperoleh kembali kehormatan dan kemuliaan itu, yaitu tidak menegakkan kembali bangun malam seperti yang dipesankan Nabi SAW. Dari Sahal bin Sa’ad ra., dia berkata, “Jibril datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Ya Muhammad, hiduplah sesukamu karena kamu pasti mati, beramallah sesukamu karena kamu pasti dibalas karenanya, cintailah siapa yang kamu sukai karena kamu akan meninggalkannya. Ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mu’min adalah qiyamul lail dan kehormatannya adalah merasa kaya/cukup dari manusia (gak minta – minta).” (Rowahu Thabrani fi Mu’jam al-Ausath). Dua contoh di atas, adalah salah satu keutamaan qiyamu lail. Salahuddin Al-Ayyubi memperoleh kemenangan yang gemilang dalam perang salib. Umar bin Abdul Aziz mendapatkan kemakmuran dan kesejahteraan atas kerajaannnya. Sekarang banyak yang terlena. Ali bin Abu Thalib berkata, “Pada suatu malam Rasulullah SAW mengetuk pintu rumahku – yang juga rumah Fathimah binti Muhammad SAW – lalu beliau bertanya, ‘Apakah kalian tidak mengerjakan sholat malam?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, diri kami ini bergantung kepada Allah, jika Dia menghendaki kami bangun, maka kami pun akan bangun.’ Lalu Rasulullah SAW berpaling setelah mendengar perkataan itu dariku dan tidak menoleh lagi kepadaku. Aku mendengar beliau sambil berpaling menepuk pahanya mengatakan; ‘Manusia adalah makhluk yang paling sering mengeluh lagi membuat alasan.’” (Rowahu al-Bukhary, Muslim dan an-Nasa’i). Jauh sebelumnya, Umar bin Khaththab menyatakan kelebihan solat malam dengan berkata: “Barangsiapa mengerjakan solat malam (tahajud) dengan khusyuk niscaya dianugerahkan Allah sembilan perkara, lima di dunia dan empat di akhirat. Karunia di dunia meliputi; (1) Jauh dari segala penyakit, (2) Lahir kesan takwa pada wajahnya, (3) Dikasihi sekalian mukmin dan seluruh manusia, (4) Percakapannya mengandungi hikmah (kebijaksanaan) dan (5) Dikurniakan kekuatan dan diberi rezeki dalam agama (halal dan diberkati). Sedangkan empat perkara perkara di akhirat ialah; (1) Dibangkitkan dari kubur dengan wajah berseri-seri, (2) Dipermudahkan hisabnya, (3) Cepat melalui sirat al-Mustaqim seperti kilat dan (4) Diserahkan suratan amalan pada hari akhirat melalui tangan kanan.” Persis seperti yang disabdakan Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Umamah. Dari Abu Umamah al-Bahili ra. dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Tetapilah atas kalian qiyamul lail, sesungguhnya itu adalah kebiasaan orang – orang sholih sebelum kalian, dan merupakan pendekatan diri kepada Tuhan kalian, pelebur kesalahan – kesalahan dan pencegah dari dosa.” Banyak kaum muslimin yang meninggalkan kebiasaan ini. Bagaimana mungkin kejayaan diharap akan datang? Kenapa hal ini penting? Sebab dengan qiyamu lail seorang hamba mempunyai akses langsung kepada Allah SWT. Dengan qiyamu lail, itu adalah pembuktian atas janji Allah yang tak pernah diingkari. Dari Abu Huroiroh ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda;“Pada setiap malam Allah SWT turun ke langit dunia, ketika sepertiga malam yang akhir tiba. Lalu Allah berfirman; ‘Barangsiapa yang berdoa kepadaKu niscaya Aku kabulkan, barangsiapa yang meminta kepadaKu niscaya aku berikan dan barangsiapa yang meminta ampunan kepadaKu, niscaya akan Aku ampuni’.(Rowahu Bukhary) Nah kenapa hal ini terabaikan? Maka salafus-shalih Al Fudhail Ibnu ‘Iyadh berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah berfirman: “Adalah dusta orang yang mengaku cinta kepada-Ku tetapi dia tidur daripada-Ku, bukankah setiap orang yang sedang dilamun cinta sangat suka kalau sentiasa berkhalwat (berduaan) dengan kekasihnya? Inilah Aku yang sentiasa memerhatikan kekasih-kekasih-Ku, sungguh mereka telah jelmakan Aku dalam pandangan mereka, berdialog dengan-Ku seolah-olah mereka menyaksikan Aku, bercakap dengan-Ku seolah-olah Aku hadir dihadapan mereka. Esok akan Aku senangkan hati kamu di dalam surga-surga-Ku. Perasaan ini sentiasa tersemat kukuh di hati mereka sehingga tidak ada di dalam hati mereka kecuali Aku. Oleh karena itu tidak ada yang muncul dari anggota mereka melainkan selaras dan sesuai dengan apa yang ada di dalam hati mereka.”

Jadi, ayo gerakkan lagi kebangkitan qiyamu lail untuk kejaayaan islam ini.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment