Produk Gagal

mobilLama saya tidak bertemu teman yang satu ini, sampai akhirnya kami bisa ngobrol sepuasnya – berdua – di acara pengajian bulanan kemarin. Maklum sebab lama tidak ketemu ada nuansa emosi yang mendalam diantara kami. Rasa rindu, kabar-kabari dan segepok omong – kosong lainnya demi mengisi waktu perjumpaan dan saling tak lupa juga berbagi perkeling dan nasehat ala kadarnya. Sampai akhirnya kami terlibat pembicaraan masalah mobil.

“Bagaimana Pak sudah turun mobilnya?”

“Sudah Mas, tapi barengan mobil turun saya juga pindah.”

“Lho, kok…. Pindah atau dipindahkan?”

“Ya, begitulah…”

Kulihat ekspresi wajahnya, biasa saja tanpa ada rasa sesal dan sedih. Seingat saya dia termasuk orang yang ngalahan atau keporo ngalah. Sewaktu dulu bertugas di Bandara, yang jatahnya dia bisa berangkat haji, akhirnya gagal juga sebab jatahnya dia – nggak tahu kenapa bisa beralih ke orang lain. Sebagai gantinya dia cukup ditugasi melayani catering haji di Pondok Gede saja. Malahan saya yang sewot demi mendengar ceritanya dia.

“Wah, kenapa Bapak diam saja? Lain kali perlu lebih struggle dikitlah Pak, kan kurup toh hasilnya – bisa haji gratis.”

Habis saya ngomong begitu, tak berapa lama dia pindah ke Propinsi Banten demi mencari posisi dan peluang yang baru. Alhamdulillah sedikit banyak tercapai – kabul – cita-citanya. Sampai terdengar lagi cerita di atas perihal pengadaan barang yang dia rintis dan perjuangkan, pada akhirnya dia tidak bisa ikut menikmati. Sebab pas turun, pas juga dipindahkan ke bagian lain. Apa mau dikata. Mungkin guratan nasib harus begitu. Dulu mengajukan pengadaan Innova, setelah turun dipakai oleh kadisnya. Tahun berikutnya mengajukan pengadaan panther, begitu turun panthernya – dia dipindahkan tugasnya. Tapi di sinilah saya baru tahu bagaimana dia mengelola emosinya demi kekecewaan-kekecewaan yang dia alami.

“Memang kijang panther banyak yang suka kok mas. Saya sudah punya satu di rumah.”

“Tapi kan model lama?”, kata saya. Setahu saya dia punya mobil kijang rover model lama.

“Bukan itu, tapi – kaki telanjang pantat muter-muter. Punya kan?”

Ouwww ……..saya mafhum dan kemudian kami terbahak bersama, demi tahu arti kijang panther yang dimaksud.

“Mas, tahu nggak kalau innova, panther, honda stream, CR-V itu semua produk gagal.”

“Ahh,… yang benar aja. Kata siapa?”

“Kata saya,” jawabnya dengan still yakin, “karena semua itu gagal saya beli. Apa dong istilahnya produk yang gagal kita beli? Produk gagal kan?”

“Iya-ya!” mulut saya tertutup – klakep.

Suasana benar-benar cair. Kerinduan kami terasa lenyap sudah. Banyak guyon-guyon dan canda – tawa yang mengalir memecah waktu. Serasa kedukaan dan kegembiraan kami adalah duka cita bersama – milik kami bersama.

Selang beberapa waktu, saya menemukan catatan lama di buku yang menempel di Alquran lama saya. Hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi itu benar-benar pas banget dengan keadaan teman di atas. Bagaimana mengelola emosi, memandang hidup dan menegakkan paradigma sebagai orang iman yang harus bisa bersyukur dan sabar dalam menghadapi segala situasi. Mungkin inilah nasehat penguat yang menambah hikmah buat saya. Bersabda Rasulullah SAW: “Ada dua perkara barang siapa dua perkara ada padanya maka Allah menulis baginya orang yang syukur lagi shabar dan barang siapa dua perkara tidak ada padanya maka Allah tidak menulis baginya orang yang syukur lagi shabar. Barang siapa yang melihat di dalam urusan agamanya kepada orang yang di atasnya lagi mengambil teladan dengannya dan barang siapa melihat di dalam urusan dunianya pada orang yang lebih rendah darinya lantas memuji dia pada Allah atas kefadholan yang diberikan Allah kepadanya, maka Allah menulisnya sebagai orang yang syukur dan shabar. Dan barang siapa melihat agamanya pada orang yang lebih rendah darinya dan melihat di dalam urusan dunianya pada orang yang lebih atasnya, maka mencela/menggerutu atas apa-apa yang menelatkan Allah padanya, maka Allah tidak menulisnya sebagai orang yang syukur lagi shabar (rowahu Tirmidzi K. shifatil qiyamah wariqooiqi wal waro’i).

Jadi, produk gagal merupakan salah satu paradigma untuk melihat urusan dunia lebih rendah dari apa yang telah kita punya.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment