Ponco Sudo

40Memasuki tahta anak tangga usia ke empat dasawarsa, ada rasa yang berbeda. Kehidupan bertutur penuh lembut menyapa. Sedikit demi sedikit, tetapi pasti. Pelan, tapi menghanyutkan. Menorehkan garis tegas peradaban, bahwa roda kehidupan tengah dan terus berputar. Dari lemah tumbuh menjadi kuat. Dan setelah kuat, datang saatnya kembali lemah lagi. Rasanya, setengah putaran itu sudah berlalu. Kulminasi, telah terlampaui. Kini saatnya meniti jalan – jalan panjang terjal menurun. Menafsir arti akan titah Allah yang Maha Tinggi;

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

Artinya: “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS Ar-Ruum 54)

Pertama dan utama, angin perubahan yang menerpa rasa di usia 40 ini adalah perasaan kurang di sana dan kurang di sini. Tak ada kesempurnaan yang mengemuka, terkecuali diliputi kekurangan yang terus menggoda. Rasa bangga dan kebanggaan yang dulu meraja, lambat – laun tersapu oleh waktu. Pergi, menyematkan diri, di bawah rendahnya telapak kaki. Sebelum berujung pada penyesalan, kini sudah menjadi janji untuk memanfaatkan waktu sisa ini sebaik mungkin. Ilmu belum seberapa. Kutubu Sittah belum rampung. Banyak seluk – beluk ilmu yang belum tahu daripada tahunya. Hanya perasaan saja sudah memiliki semua. Amal belum ada tindasannya. Yang ada hanya hangat – hangat tahi ayam. Mempeng. Nedeng pas longgar dan hati senang. Giliran dicoba, gelisah tak karuan. Kesungguhan belum sampai puncaknya. Sering terlena dan lupa di tengah perjalanan. Berganti haluan dan menyerah sebelum target terpenuhi. Lahirnya belum, apalagi batinnya. Kekhusyu’an juga belum sempurna. Masih diburu urusan dunia dan sebangsanya. Takut miskin dan gak cepat kaya, nyatanya. Dan masih banyak lagi kekurangan – kekurangan lainnya.

Oleh karenanya, terngiang kisah Sahabat Abu Bakar bin Abi Quhafah, atau yang lebih dikenal dengan Abu Bakar Ash-Shidiq – khalifah pertama, dan istrinya, yang tersebut di dalam AlQuran surat Al-Ahqaf ayat 15. Di dalam Tafsir Ibnu Abas, diterangkan dengan jlentreh kisah itu dengan rinci dan presisi. Juga ‘secara kebetulan’ Allah menyebutkan angka 40 dan sebuah doa yang penuh penghambaan. Simaklah firmanNya;

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (15)

Artinya:“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS Al-Ahqaaf 15)

Memang tidak ada keharusan untuk berdoa sebagaimana ayat di atas. Semakin cepat berdoa dengan kalimat itu, tentu semakin baik. Banyak juga doa-doa semisal yang bisa diamalkan. Atau berpendapat bahwa itu adalah doa ketika memasuki usia 40 tahun. Tidak. Namun, lebih kepada rasa tanggung jawab terhadap titipan Allah. Kepada anak, bagaimana bisa menjadikan anak turunnya keturunan yang sholih. Mendapat hidayah dan penerus kelangsungan agama Allah. Kepada kedua orang tua, terutama ibu yang dengan susah – payah mengandung selama 9 bulan dan menyusui 30 bulan, bagaimana bisa berbuat baik kepada mereka, tanpa merusak atau mengalahkan akidahnya. Nikmat Allah, yang banyak dan tak terhitung, bagaimana bisa mensyukuri dan memanfaatkannya sebaik mungkin di jalan Allah. Terlebih dikala umur sudah menginjak 40 tahun. Usia yang paripurna dan penuh dengan sikap kedewasaan. Sesuai sebuah jargon iklan beberapa waktu yang lalu bahwa menjadi tua itu pasti, sedangkan menjadi dewasa adalah pilihan. Nah, di sinilah Allah mengambil waktu, memberikan peringatan yang tepat.

Kedua dan penuh dilema, adalah keinginan – keinginan yang terus menggoda. Boleh dikata usia 40 adalah batas yang jelas (untuk berfungsinya organ optimal secara alamiah), waktu yang cukup (untuk menata hidup penuh makna) dan saat yang tepat (untuk menggugah kesadaran dan mengejar ketertinggalan). Di dalam asmara misalnya, ada yang bilang usia segitu adalah puber kedua. Padahal, teman saya pernah berujar, bagaimana puber kedua, wong puber pertama saja belum selesai. Di dalam urusan dunia, pengin gaji yang besar, rumah mewah, tunggangan keren dan perangkat beken bin mutakhir. Sudah lupa bahwa dalam dirinya sekarang sudah terjangkit panca suda. Yaitu mulai berkurangnya fungsi panca indera seiring bertambahnya usia. Faktor  u orang bilang, merujuk ke usia.

Mata, sudah mulai rabun. Makanya, sebagian perlu disambung dengan serangkaian perangkat yang disebut kaca mata. Ada yang plus, kalau beruntung sering membaca. Atau tambah minus, silindris, atau kombinasi keduanya, kalau tidak beruntung dan suka melotot di depan layar perangkat media. Hanya dua yang tidak menjadi perusak mata, yaitu hijaunya uang dan kilaunya aura wanita. Kapan pun selalu menggairahkan. Indera penciuman, sudah sering mencium bau minyak gosok ketimbang parfum atau wewangian lainnya. Sebab sudah sering masuk angin dan kondisi tubuh yang tidak fit lagi. Artinya penjagaan kesehatan kurang diperhatikan. Sibuk cari harta, lupa akan kesehatannya.

Pendengaran juga sudah mulai berkurang. Dulu sensitif dengan gurauan – gurauan mesra dan canda – tawa. Sekarang kelihatan lebih serius dan hanya peka terhadap proyek dan yang berbau mata pencaharian saja. Bagaimana menghasilkan uang dan uang. Bukan itu saja, bahkan volume suara ketika berbicara pun terdengar lebih menggema. Indera pencecap – atau lidah – juga sudah mulai berkurang fungsinya. Sekarang tidak boleh lagi menyantap masakan – masakan yang lezat. Apalagi bersantan dan berlemak. Padahal itu sangat gurih. Tidak boleh yang enak – enak lagi, kecuali mencicipi secukupnya dan sedikit saja. Tidak bisa seenaknya kayak jaman muda dulu. Apalagi kolesterol sudah tinggi dan lemak sudah tumbuh di sana – sini. Terutama di sekitar puser. Belum lagi asam urat, diabet atau darah tinggi yang terus membayangi.

Dan terakhir, indera peraba – yaitu kulit – pun ikutan. Sudah bertambah jumlah lipatan dan keriputnya. Yang ujungnya berpengaruh terhadap penampilan dan sensitifitasnya. Maka, yang peduli dengan penampilan pun, pada akhirnya sibuk dengan acara vermak – memvermak. Bagaimana menunda penuaan dan menghilangkan lipatan serta kerutan. Lainnya, dulu bersentuhan dengan istri langsung greng, sekarang mulai ada bedanya. Bukan karena bosan, bukan? Memang begitulah adanya. Sebagian ada yang bilang fase perjuangan hidup, karena sifatnya yang datar – datar saja. Perlu sebuah perjuangan untuknya.

Tanda lain yang mengikuti panca suda ini adalah kebugaran jasmani yang tererosi. Badan tidak setegap dulu lagi, walau dari tali pusat ke bawah masih tetap menyala – nyala.  Jidat sudah mulai melebar, menebar ancaman. Tanda kebotakan sedang melanda. Walau ada yang bilang gunawan – gundul tapi menawan, nyatanya banyak yang risau dengannya dan berusaha untuk menutupinya. Uban – bagai duduk di bawah pohon jambu. Sudah tumbuh berderak – derak di mana suka. Di kumis, di jenggot, di kepala, bahkan bulu hidung juga ada. Kenyataan tidak bisa menipu. Walau ada yang bersendau sudah mulai “meninggalkan dunia hitam”, banyak cara dilakukan orang untuk menutupi uban sebagai tanda penuaan.

Maka, di usia 40 – selain jargon bahwa menjadi tua itu pasti, dan menjadi dewasa adalah pilihan, akan lebih baik dengan adanya panca suda itu, kita bisa lebih memperhatikan keseimbangan dan terpeliharanya panca indera dan jasmani kita sampai ajal tiba. Perut buncit, rambut beruban dan seringnya tidak enak badan, harus direspon dengan baik. Kalau tidak itu semua adalah awal dari bencana. Untuk itu, mari kita lengkapi itu semua dengan mencermati firman Allah di dalam Surat Bani Israail ayat 13 – 15 berikut. Allah berfirman:

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا (13) اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا (14) مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا (15

Artinya: “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

Sudahkan kita menulis yang baik – baik dalam catatan diari kita?

Smg sempat baca. Maaf kalau tidak berkenan.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment