Pikiran dan Persangkaan

pikiranTiba – tiba saya teringat almarhumah Mbah Buyut saya. Orangnya tinggi besar. Hidungnya mancung. Kearab-araban. Rajin dan tekun ibadah. Sayang anak turunnya tidak ada yang mewarisi genetisnya. Kerdil, pendek dan berhidung pesek. Dan saya cuma kecipratan rambut pirangnya saja. Itu menurut ibu saya. Salah satu pituah yang nyantel dibenak ini adalah begini. “Jangan pernah berkata benci, kotor, atau berpikiran busuk. Nanti, kalau ada setan lewat, bisa terjadi sungguhan, lho! ” katanya. Saya cuma mesem, sok modern. Lagak umumnya ABG jaman itu. Cenderung menyepelekan pitutur itu. Maklum, di mata saya, orang sepuh itu suka berpikir aneh. Tidak masuk akal. Jadul, orang bilang. Pokoknya, ucapan Mbah Buyut yang membawa nama setan, jin, dan malaikat saya ibaratkan angin lalu. Tak perlu digubris. “Ya, sudah, kalau tak percaya,” katanya. Esoknya, petuah serupa diulang lagi, dan diulang lagi, walau sang cicit selalu menertawakannya. Itu dulu.

Belakangan, “pelajaran” dari Mbah Buyut itu semakin terasa kebenarannya. Semakin hari semakin terbukti. Tetapi bukan masalah jin, setan dan malaikat, melainkan sebuah kekuatan hati dan pikiran manusia ini. Terlebih setelah belajar ajaran agama yang haq ini, dimana dalam hadits Qudsi Allah berfirman: Ana ‘inda dhonni abdii bihi – Aku (Allah) bersama persangkaan hamba-KU dengannya. (Rowahu Bukhari).  Tampaknya, Mbah Buyut yang buta huruf dan tak mau memaksakan kehendak itu lebih memahami hidup dibanding orang- orang jaman sekarang. Yang sok pintar, sok ngatur, sok modern. Memang, seharusnya makin berakal seseorang, semakin pintar, makin mudah ia memahami alasan orang lain dan dalam menjalani hidup ini.

Nah, dengan dasar dalil di atas, pikiran manusia itu bisa “disetel” istilahnya sesuai dengan daya kehendak. Karena Allah bersama hambaNya. Mengumpat disertai kutukan bisa mewujud nyata jika dilakukan serius. Lahir – batin. Sebaliknya, pikiran baik – daya kehendak kalau tidak dijaga dengan baik juga bisa rusak. Yang merampas daya itu adalah keraguan. Keraguan merampas keberanian, harapan, dan optimisme. Berpikir busuk, misalnya, bisa melecut ketidakserasian. Berpikir buruk itu hanya menyengsarakan diri. Membuat suasana jadi muram. Pernah, suatu ketika, seorang teman bercerita. Familinya suatu saat rekreasi ke Baturaden, Purwokerto, Jawa Tengah. Usai menghirup udara segar pegunungan dan indahnya pemandangan alam, mereka kembali ke kota. Jalanan menurun. Tiba-tiba, di balik setir mobil terlintas pikiran negatifnya: “Belasan tahun saya membawa mobil tapi belum pernah merasakan rem blong!”

Belum sampai 10 menit otaknya berpikir rem blong, rem yang diinjaknya jebol sungguhan. Kendaraan meluncur deras. Syukurlah, dia tidak panik. Tahap demi tahap gigi persneling dipindahkan ke gigi kecil. Begitu terkendalikan, mobil dipinggirkan dan rem tangan ditarik. Ia menghela napas panjang.

“Kok, berhenti,” tanya istrinya.

”Lha, wong remnya blong,” katanya.

”Kok, tidak bilang-bilang?” tanyanya lagi.

Tentu saja tak perlu dijawab. Sebab, jika fakta itu disampaikan, kepanikan dijamin akan menular ke seluruh penumpang. “Tuhan masih melindungi kita,” ujar dia.

Sebaliknya, pikiran yang positif dapat menghasilkan sesuatu yang sangat mengagumkan. Man jadda wajada – peribahasa Arabnya – Barang siapa yang mempersungguh akan berhasil. Ia dapat menguasai materi, objek, dan urusan. “Ia bahkan dapat bekerja dengan sangat mengagumkan, yang orang tak dapat menjelaskannya,” tulis Hazrat Inayat Khan. Oleh karena itu selalu diingatkan untuk selalu husnudhon. Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian mati kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.” (HR: Muslim).

Pikiran dan perasaan manusia itu memiliki getaran kekuatan. Ketenangan dan kedamaian hati seorang pawang, misalnya, mampu menjinakkan singa liar. Pikiran singa itu “terpengaruh” oleh si pawang yang cinta damai. Begitu pula dalam arena adu gajah di India. Daya pikir ribuan penonton menghendaki agar hewan itu berkelahi. Keinginan itu direfleksikan pada hewan hingga menimbulkan kekuatan –sekaligus hasrat untuk berkelahi.

Ada pula penjinak ular yang bertugas “membujuk” binatang melata itu keluar dari sarangnya, tanpa musik. Pikiran penjinak yang direfleksikan pada ular itulah yang menarik ular keluar dari persembunyian. Ada orang yang mengusir lalat dengan merefleksikan pikirannya pada makhluk kecil tersebut. Kekuatan yang mempengaruhi pikiran serangga itu merupakan bukti adanya daya, bukan keistimewaan. Semua perlu latihan dan kesabaran.

Ada pula kuda yang mampu memecahkan soal matematika rumit. Atau burung di Taman Safari juga dilatih demikian rupa berhitung matematika.  Jawaban itu merupakan refleksi pikiran pelatihnya yang diproyeksikan pada pikiran kuda. Dalam proses mediumistik, suatu gagasan matematika diproyeksikan pada pikiran kuda. Daya proyeksi dapat ditingkatkan dengan peningkatan daya kehendak, pemikiran, atau perasaan. Inilah rahasia terbesar kehidupan. Allah Yang Maha Tahu, manusia banyak tidak tahunya.

Bila pikiran tak jelas, misalnya, terganggu atau terlalu aktif, maka pikiran tidak dapat mengantar refleksi secara utuh. Pikiran dapat diibaratkan danau. Jika angin bertiup dan air beriak, maka refleksinya menjadi tidak jelas. Sebaliknya, jika berair tenang, bisa merefleksikan dengan jelas. Pikiran adalah permukaan hati, dan hati adalah kedalaman pikiran. Apa yang datang dari dalam menyentuh kedalaman, dan yang di permukaan hanya berada di permukaan. Maka, jangan heran jika dua jiwa yang berhati penuh kasih dan berperasaan halus bisa berkomunikasi melalui pikiran dan perasaan. Jarak bukan halangan.

Maka, si Bedu yang lama tak bersua, misalnya, tiba-tiba menelepon atau muncul di depan mata hanya karena “terpikirkan” oleh teman karibnya. Kebetulan? Tidak! Di dunia ini tak ada sesuatu yang bersifat kebetulan. Seluruh perilaku pikiran mempengaruhi urusan hidup.
Daya pikir memang punya efek yang dahsyat. Pikiran yang panas membuat “api” di sekitarnya, hingga orang-orang di dekatnya terbakar oleh “api” tersebut. Sebaliknya, pikiran yang tenang dan damai memberi kesejukan pada orang-orang yang berada dalam ruang lingkupnya. Allah berkehendak lewat persangkaan dan pikiran hambaNya.

Tentu, semua refleksi ini bukan karena ada setan atau malaikat lewat. Di dunia ini, tiada suatu yang tanpa makna. Juga bukan kebetulan. Tidak sebutir atom pun yang terlepas dari liputan dan rencana Allah. “Maka barang siapa yang beramal kebaikan seberat biji sawi, pasti ia akan melihatnya, dan barang siapa yang beramal keburukan seberat biji sawi maka ia pasti akan melihatnya.” (QS Al-Zalzalah 7 – 8). Hanya karena kita tak memahami kehidupan di dunia ini, maka kita berada dalam kegelapan. Dan memang banyak sesuatu yang belum kita ketahui.

“Sesungguhnya, di antara ilmu itu ada yang laksana mutiara tersembunyi, ia tidak diketahui kecuali hanya oleh orang-orang yang mengenal Allah saja,” sabda Nabi Muhammad SAW dalam sebuah riwayatnya.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment