Pagi

pagiBangun pagi itu indah. Suasana pagi itu sejuk. Udara pagi itu sehat. Pagi itu penuh kedamaian dan harapan. Pagi itu start – awal kehidupan. Maka dari itu, banyak orang tua yang berpesan agar selalu dapat bangun pagi – pagi.  Jangan malas.  Apalagi sampai keduluan matahari. Pamali, kata orang sunda. Itu pesan luhur yang sering disuguhkan pada saya kala bocah. Sebab pada kenyataannya, pada usia- usia sekolah, memang susah untuk bangun pagi. Apalagi sampai menikmati indahnya terbit matahari.

Apakah terbitnya matahari itu indah? Wow, luar biasa. Bagi kita yang sibuk dengan kerja, pergi petang, pulang juga petang, sempatkanlah untuk bisa menikmatinya. Nikmatilah indahnya pagi, kala mentari hendak berangkat meninggi. Sejuta kesan dan pemahaman begitu banyak terungkap di kala menyambut pagi, seperti sebait tembang dandanggulo dari guru SD saya ini;

 

Jago kluruk, rame kapiarsi, (ayam berkokok bersahutan)

Lowo kalong luru pandelikan, (kelelawar kembali ke persembunyian)

Jrih kawananing semune, (takut datangnya siang/kesiangan)

Wetan bang sulak ipun, (di timur sudah memerah), dst.

 

Atau meminjam istilah Tika Bisono lewat tembangnya yang berjudul Pagi, tergambar lukisan jemawa akan indahnya pagi hari. Simaklah;

…..,

Burung – burung pun memberikan salam,

Dalam kesejukan dan indahnya pagi,

Seandainya suasana pagi ini

Kan sepanjang hari betapa bahagia,

…..,

Setidaknya setiap akhir pekan, ketika saya berkumpul dengan keluarga, saya pasti bisa menikmati indahnya pagi. Selepas subuh, si kecil sudah minta ditemani keluar rumah mengitari jalan komplek rumah kami. Dengan kayuhan sepeda, kami menyusuri lorong pagi hari dengan berkah yang banyak sekali. Udara segar, terasa murni tanpa polusi. Ada tetesan embun yang bening, menebar aroma dingin dan membuat sejuk serta adem di hati. Cess, meredam sisa – sisa amarah yang tertinggal. Kemudian udara diselimuti sedikit hamparan kabut lembut temaram, yang membuat mata menari – nari waspada dan enggan untuk memejam kembali.  Pemandangan yang elok. Nuansa putih. Ada tiupan angin sepoi – sepoi, tak bersuara, menusuk pori – pori. Kicau burung, kokok ayam berlomba – lomba ‘pamer diri’, seolah menirukan kontes – kontes yang ada di tv. Merdu dan membawa wujud syukur menyambut pagi.

 

Kemudian nun jauh di atas sana, awan bersolek, berubah dari warna aslinya. Ketika datang pagi, awan berbaju warna seiring sorot sinar matahari. Awalnya yang gelap – hitam, kemudian sedikit benderang dengan balutan warna kemerahan di sekujur sisinya. Semakin lama semakin terang, jelas memerah, kemudian sedikit demi sedikit jingga beraduk. Dan lamat –lamat  merekahlah bulatan merah di garis cakrawala. Semakin lama – semakin sempurna bulatannya dan tampaklah warna kekuningan – kuningan di sekitar awan, menggusur warna jingga dan merah sebelumnya.  Akhirnya terang – benderang. Matahari menampakkan diri dengan gagahnya. Menandai dimulainya hidup baru yang penuh semangat dan vitalitas.  Matahari adalah symbol memberi. Dengan warna merah total yang tak tertandingi di pagi hari. Dialah matahari, menyapa alam semesta dan negeri ini. berbagi, tanpa mengharap balasan kembali.

Di saat itulah, saya merasakan banyak nikmat Allah yang terlewatkan begitu saja. Di pagi itulah, banyak penyegaran akan pemahaman hidup ini bermunculan. Dan waktu itulah, saya sadar bahwa banyak ayat-ayat Allah yang bisa saya deres kembali lewatnya. Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang niscaya jadi ayat bagi orang – orang yang berakal. (QS Ali Imron ayat 190).  Allahu Akbar. Pergantian malam dan siang adalah pagi hari.

 

Pertama, saya teringat pelajaran tentang waktu sholat. Ketika saya tanya anak saya yang paling gede, kapan waktu shubuh? Dengan spontan dia jawab, dari jam 4.30 sampai jam 6.00 pagi. Jawaban yang jujur dan mewakili (kebanyakan). Sekarang muslim jarang yang mengetahui dengan pasti bagaimana tuntunan Nabi SAW dalam menentukan waktu sholat. Hadist yang ada sudah dikonversi ke jam, menit dan detik. Buat apa capek – capek mesti memperhatikan matahari, kan sudah ada jam? Begitulah kira – kira opini orang masa kini. Buat apa meski mengintip matahari jika bangun kesiangan? Kalau jarum jam masih belum di angka 6 dan kamar masih gelap, pasti masih waktu shubuh? Nah, timbullah menyepelekan diri. Melupakan ajaran yang hakiki. Padahal kalau mau, menikmati pagi hari itu mudah dan gampang sekali. Apalagi kalau cuma melongok matahari. Sejatinya Rasulullah SAW mengajarkan bahwa waktu subuh itu ketika terbit fajar sampai sebelum terbitnya matahari. Tentunya, setiap muslim harusnya bisa  menikmati datangnya pagi setiap hari. Bahkan menyambutnya dengan dua rekaat sebelum sholat shubuh yang lebih baik daripada dunia dan seisinya ini.

Dari Aisyah, dari Nabi SAW, beliau bersabda; “Dua rekaat sebelum shubuh lebih baik daripada dunia beserta semua isinya.” (Rowahu Muslim dan at-Tirmidzi)

Kedua, saya teringat salah satu doa Nabi SAW, Allahumma barik liummatii fii bukuurihaa – Ya Allah berilah kebarokahan bagi ummatku di dalam pagi – pagiannya (Kitabul Ahkam hal 26. Hadits no 49, dari Shokhr Al-Ghomidi). Doa yang nresep. Dalam. Nandes dan nempel kayak prangko. Memberikan motivasi dan kesegeran yang luar biasa abadi. Ajaran yang luhung, yang harusnya membuat manusia selalu bersemangat dalam hidup. Sebab mendapat doa Nabi. Tidak loyo dan tidak malas. Seperti kata orang jawa, ndang budal isuko kono, kanggo ngadang rejeki. Ojo sampek dipathok ayam. (Segeralah bangun pagi dan melangkah mencari rejeki, biar tidak didahului ayam/orang lain).

 

Ketiga, mensyukuri dan menikmati hidup ini. Bahwa penciptaan langit dan bumi serta perselisihan malam dan siang adalah ayat Allah Yang Maha Tinggi. Marilah kita nikmati. Marilah kita syukuri. Jangan biarkan anugerah yang besar ini lewat begitu saja setiap hari. Muspro. Banyak orang – orang yang berburu sun rise kemana – mana. Tapi, justru banyak kita yang abai darinya. Lebaran tahun kemarin misalnya, seorang teman rela berangkat mruput (pagi sekali) untuk menyaksikan sun rise di Bromo. Bermodalkan kamera dan kerja ekstra, berusaha merekam keindahan yang Allah berikan setiap hari itu dalam bingkai data. Padahal kalau mau tidak usah jauh – jauh pun bisa.

Memang suasana pagi bisa menghilangkan jiwa yang penat. Dia mengusir gundah pikiran, menghilangkan malas dari badan dan kebaikan lain yang banyak seiring datangnya pagi. Marilah ikut mengalir di dalamnya. Dari Abu Hurairah ra, katanya: “Nabi SAW bersabda : “Malaikat-malaikat itu datang silih berganti, untuk malam dan untuk siang. Dan mereka berkumpul pada waktu sembahyang fajar (subuh) dan Asar. Kemudian malaikat-malaiakat untuk malam hari naik kepada Tuhan lalu bertanya kepada mereka, sedang Tuhan itu Maha Tahu. Tuhan berfirman: “Sedang mengapa hambaku kamu tinggalkan?”. Mereka menjawab: “Kami tinggalkan mereka sedang sembahyang dan waktu kami datang kepada mereka, juga mereka sedang sembahyang”. (Rowahu Al-Bukhari)

Programlah hidup kita ini mengikuti pola alam semesta yang penuh kebarokahan ini. Penuh kesempurnaan, sehingga kita bisa berucap: keindahan alami untuk kebaikan diri. Karena sesungguhnya suguhan pagi hari adalah merupakan hukum – hukum Allah yang telah ditetapkan untuk semesta ini.  Ia tidak akan berganti sebelum Allah menitahkan perubahannya. Oleh karenanya, mari nikmati pagi hari ini…!

 

Dan jika sudah memahami dan menikmatinya, mari kita teruskan dendang “Pagi” kali ini:

…..

Burung-burungpun memberikan salam
Selamat pagi..
Di pagi yang indah ini..

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment