Nutrisi Jiwa

nutrisi jiwaLidah memang tidak bertulang. Oleh karena itu, si empunya bisa berbuat apa saja dengan mudahnya padanya. Mau dipakai jujur, bisa. Mau dipakai ngibulpun, oke saja. Bahkan dijadikan masakanpun, mau jenis sop, rujak, atau gulai, nurut saja. Dan semua tahu, enak rasanya.

Berbeda dengan masakan dari bahan lidah yang mak nyuss rasanya, dalam kehidupan justru banyak lidah yang lebih pedas dari sambal Jawa. Lebih menyakitkan dari sakit gigi. Tak jarang, malah menimbulkan pertikaian dan pembunuhan. Hanya gara-gara lidah. Omongan yang dihasilkan lebih menghunjam daripada rudal. Hasilnya memporak-porandakan sekitar. Maka para tetua sering mengingatkan; mulutmu harimaumu. Jangan sampai kita binasa karena ulah lidah kita sendiri.

Seorang ibu muda yang belajar mandiri, mengeluh kepada suaminya. Ia mulai tidak sabar dengan ulah tetangganya yang berlidah liar. Omong sak omong selalu menyakitkan. Underestimate dan sok-sokan, sehingga membuat si tetangga tersebut dijauhi. Berkali-kali juga si suami mengingatkan istrinya untuk sabar menghadapi semua ini. Banyak ngalah. Menjadi pendengar yang baik. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Namun, kesabaran ada batasnya. Dibalik rasa galaunya yang membuncah, si istri menggugat suami. Alih-alih bersabar, kini si ibu muda itu mempertanyakan; “Kok bisa ya, padahal dia kan orang pengajian?”

Tersadar dengan pertanyaan tak terduga sang istri, jiwa sang suami seolah tercerahkan dengan maksud Allah dalam KitabNya; “Kenapa orang iman diharuskan selalu menjaga omongan dan selalu berusaha untuk omong yang baik dan benar?”Karena ini adalah nutrisi jiwa. Kebutuhan jiwa yang ada benih – benih keimanan dan ketakwaan di sana, untuk menumbuh-kembangkan benih itu hingga subur, berkembang dan berbuah, sehingga mendamaikan diri sendiri, lingkungan sekitar dan bermanfaat untuk semesta.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat keuntungan yang besar.” (QS Al-Ahzab: 70–71)

Nah, menjawab kegalauan si ibu muda tadi, sang suami bertutur bijak; “ Karena ia mengambil nutrisi yang salah dari menu pengajian yang ada. Ketika diajak berbicara yang benar, dia memilih untuk tidak berbicara yang benar. Akibatnya, jiwanya kurang nutrisi, keimanan tidak berkembang dan cenderung menjadi pesakitan. Aras taqwa pun jauh dari genggaman. Dan Allah tidak berkehendak menghiasi orang itu dengan amal-amal yang baik dalam keseharian. Mengganti amalan yang tidak baik, menjadi amal baik adalah bukti pengambilan nutrisi yang tepat dari menu yang ada. Selama malnutrisi, gizi buruk, akibatnya akan malpraktik. Bahkan mungkin berujung kematian keimanan.”

Dalam jiwa yang sudah bergizi cukup, kehidupan menunjukkan wajah yang berbeda. Di sana – sini dipenuhi dengan warna kedamaian dan darma. Dalam keimanan dan ketakwaan yang tumbuh berkembang, kehidupan adalah sarana beramal shalih; menebar kebaikan, menyemai kebajikan. Hayatan thayyibah. Kerja sebagai contoh, bagi jiwa yang kekurangan gizi (mengeluh, protes, tidak pernah puas) adalah serangkaian keterpaksaan yang membosankan. Sebagian orang bahkan dibikin sakit dan berpenyakit oleh kerja. Stres, depresi, workaholic dan sebagainya. Bagi jiwa yang bergizi cukup (tulus, tekun, ikhlas), kerja adalah Tuhan yang transeden sedang bertransformasi menjadi Tuhan yang imanen. Petani mengolah lahan (Tuhan) menjadi buah-buahan (Tuhan). Pedagang menyalurkan buah (Tuhan) ke konsumen (Tuhan). Demikian juga dengan bertetangga. Bagi jiwa yang bergizi cukup, bertetangga selalu dalam koridor saling menjaga dan menghormati. Tak mau menyakiti dan disakiti. Bagi yang kekurangan gizi, menganggap tetangga sebagai asupan gizi yang harus di”makan” untuk memenuhi kekurangannya.

Similar to flower which is fragrant, the language of the enlightened so touching, because language is the fragrance of the soul“. Serupa bunga yang wangi, bahasa makhluk tercerahkan oleh keimanan demikian menyentuh (halus, sopan, indah dan dalam) karena bahasa adalah wewangian yang disemprotkan dari kedalaman jiwa. Artinya, tidak saja jiwanya penuh dengan keimanan, tingkah lakunya pun mencerminkan keimanan itu dalam hal-hal yang nyata. Dengan kalimat lain tetua berkata; tidak saja iman dan takwa menjadi nyanyian jiwa, bahasa juga bagian dari nyanyian jiwa. Sejuk dan mendamaikan dimana saja, kapan saja.
Dan saya pun terpesona begitu memahami indahnya pesan Allah dari dua ayat di atas. Huih, begitu mendamaikan.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment