Menyikapi Kemajuan Teknologi

Woman's Eye and World GlobesAllah berfirman; “Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (Ar-Rahman 33) Ayat ini sering dirujuk sebagai dalil kemajuan iptek, namun sebenarnya lebih luas dari itu maknanya. Ia hanya sebagian, lainnya masih banyak yang termuat di dalamnya. Dan bicara kemajuan teknologi sekarang sebenarnya seperti menepuk air di dulang. Tergantung bagaimana sikap kita kepadanya. Jika hanya berbangga dan pongah saja, sebenarnya kemajuan sekarang tidak ada apa-apanya. Kalau mau jujur, tengoklah isra – mi’raj Nabi Muhammad SAW. Dengan bouraq, Masjidil Haram – Baitul Maqdis, serta naik ke langit ke tujuh di lakukan hanya semalam. Kecepatan yang tiada bandingnya. Itu mukjizat, kata mereka. Apa pun namanya, yang jelas itu pernah terjadi dan menjadi catatan dalam sejarah kehidupan manusia. Bahwa Allah adalah yang Maha Kuasa dan teknologi adalah sebuah karya cipta anak manusia untuk memenuhi kebutuhannya.

Kemajuan TI (Teknologi Informasi) adalah sebuah keniscayaan. Ia tidak bisa ditolak, apalagi diputar lagi ke belakang. Tengoklah perlombaan provider telepon seluler, dengan banjir iklannya yang penuh dengan dinamika. Tengoklah dunia digital dengan produk-produk yang dibanggakannya. Atau dunia komputasi yang penuh dengan hingar-bingar. Belum ranah tablet yang penuh dengan inovasi dari waktu ke waktu. Sungguh suguhan yang penuh dengan talenta dan tantangan. Full speed dan power.

Yang perlu diketahui adalah bahwa pada mulanya semua dicipta dengan maksud baik, untuk mendukung dan memudahkan kehidupan ini. Lihatlah cara hidup orang jaman sekarang. Jarak bukan lagi masalah. Ke Mekah misalnya, hanya butuh hitungan jam, bukan lagi hari. Apalagi ke Hongkong atau Singapura, seperti berkunjung ke tetangga desa. Gampang dan mudah dengan layanan teknologi transportasi yang semakin maju. Kemudian cara berkomunikasi. Orang bisa saling berhubungan di mana saja berada. Ada sambungan telepon yang siap setiap saat untuk berhubungan. Suami yang jauh bisa bercakap dengan istrinya di rumah. Anak dirantau bisa ‘berkunjung’ kepada orang tuanya di kampung halaman. Tanpa bersusah payah. Cukup tekan tut – tut kecil ponselnya. Mereka semua terhubung. Silaturahim jalan. Teknologi bisa mendekatkan yang jauh. Selain itu ada juga internet yang siap menghantar ke segala arah. Mencari teman, bisnis ataupun urusan lain yang bermanfaat. Semua kelihatan mudah dan gampang karena dukungan TI ini.

Cara kerja juga berubah. Orang bisa bekerja tanpa keluar rumah. Cukup dengan internet dan telepon. Bahkan dalam perjalalan kemana pun masih bisa melakukan rutinitas kerja tanpa harus berada di ruang kerja. Dapat mengontrol dan melakukan perintah kepada bawahan maupun meeting dengan rekan kerja. Sungguh mengagumkan manfaat yang diberikan TI ini. Namun, tanpa sadar mulai timbul ketergantungan pada TI ini. Rasanya hidup jadi berat tanpanya. Dan dari ketergantungan inilah mulai timbul sebentuk pelampiasan berupa penyalahgunaan. Dari slogan mendekatkan yang jauh, akhirnya timbul sindrom menjauhkan yang dekat.

Bagai dua sisi mata uang, selalu saja ada hal negatif dari sebuah penemuan. Tak terlepas TI ini. Jaman dulu, anak ketahuan pacaran karena ada yang ngapeli setiap malam minggunya. Sekarang dari kamar saja mereka bisa chatting, sms-smsan, fb-an atau twitteran dengan bahasa yang lebih vulgar dan berani tanpa halangan. Jadi tidak salah kalau ada fatwa berkenaan dengan efek negatif ini. Lihat di masjid-masjid ada tempelan yang berbunyi matikan HP saat sholat. Cermati di majelis – majelis ta’lim dan musholla selalu ada himbauan matikan HP. Kadang sebelum sholat jumat juga diingatkan untuk mematikan HP atau merubah mode ke silent atau getar, biar tidak menganggu suasana ibadah. Ini adalah salah satu cara menghindarkan manusia menjadi korban ciptaannya sendiri. Namun ada satu cara lagi yang perlu dilakukan seiring dengan hal ini, yaitu perlunya pencerahan bagaimana menggunakan TI ini sebaik mungkin. Sebab kalau mau jujur, manfaatnya lebih banyak ketimbang mudhorotnya, sesuai dengan tujuan awal diciptakan.

Adapun pencerahan yang dimaksud adalah, yang pertama, memahami bahwa fungsi TI yang paling tradisional dan mendasar yaitu supporting function (fungsi pendukung). TI diciptakan untuk mendukung, mempercepat dan memudahkan kerja manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Bukan sebagai penghambat. Tengoklah kemajuan dunia transportasi. Bus-bus sudah semakin canggih. Kapal laut sudah semakin yahud dan pesawat sudah semakin mutakhir sebagai perpindahan mode dibanding keledai, unta atau kuda jaman dahulu.

Yang kedua adalah automating. Banyak pekerjaan yang dilakukan dengan otomatisasi karena dukungan perangkat TI. Cukup dengan set program dan mesin akan jalan sesuai kemauan kita. Dalam satu satuan waktu, orang bisa mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Dengan otomasi ini harapannya manusia punya waktu lebih untuk urusan lain yang berguna. Mencuci bisa disambi mengerjakan tugas belajar. Membuat capucino bisa bareng dengan menyajikan hidangan lain di meja makan.

Yang ketiga adalah informating yaitu merubah atau menyempurnakan apa yang perlu dirubah sampai ke detail – detailnya yang dulu tidak bisa dilakukan dan butuh waktu lama. Lihat gambar tiga dimensi (3D) dengan AutoCad misalnya. Bahkan sekarang sudah ada gambar 4D. Teknologi photoshop, bahkan mampu menyatukan dan membuat gambar yang sempurna. Diceritakan dalam salah satu sesi foto keluarga selalu saja ada yang matanya terpejam ketika dijepret. Diulang berkali-kali tetap saja ada yang tertutup matanya. Nah, dengan metode cropping photoshop mampu membuat foto keluarga itu sempurna. Melek semua. Sampai di sini fungsi TI masih sangat bermanfaat banyak bagi manusia. Seakan tak ada efeknya.

Namun setelah melewati 3 hal ini timbulah yang keempat yaitu yang bertajuk reformatting, dimana TI memformat ulang penggunanya sehingga timbul ketergantungan luar biasa kepadanya. Tahap keempat ini harus diwaspadai betul agar terhindar dari efek malfunctionnya. Sadar tidak sadar semua sedang dirubah secara meyakinkan oleh TI. Slogan menjauhkan yang dekat semakin terasa. Bangun tidur langsung menatap gadget. Saat berjalan, lenggak-lenggok mengikuti irama gadget dengan head set di telinga. Atau tampak ngomong sendirian dengan handfree di tempat-tempat umum menjadi tontonan yang biasa. Dalam totalitasnya, TI sudah menjadi serangkaian perangkat yang sedang membuat kita. Tanpa kesiapan yang memadai, merekalah yang akan menguasai kita. Bukan tidak mungkin, kalau suatu saat TI akan menjadi pemerintah komunitas manusia yang telah membuatnya. Ingatlah sinyalemen; “Matikan komputermu. Matikan (juga) ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu!” (Eric Schmidt,CEO Google).

Tahap kelima atau terakhir yaitu enlightening function of IT. Di mana, TI tidak saja perlu di‘nikahi’, tetapi juga digunakan sebagai sumber-sumber yang bisa mencerahkan hidup dan kehidupan. TI diupayakan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan. Ambillah manfaat sebesar – besarnya dan tinggalkan sekecil apapun kejelekannya. Jangan terbuai dan terjerembab dalam keterperdayaannya. Seperti lupa waktu, lupa ibadah, lupa diri, sumber kejahatan dan hal – hal lain yang useless. Hadirkanlah hal – hal yang mencerahkan. Seyogyanya kemanjaan-kemanjaan yang dihadirkan TI bisa memberi kita banyak waktu untuk keluarga, pergi ke mesjid, untuk melakukan ibadah, datang ke pengajian dan kegiatan amal lainnya. Dengan menempatkan TI sebagai enlightening technology, ia akan berfungsi sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan-tujuan hidup yang mencerahkan. Jangan malah sholat terganggu dengan bungi ring tone, sehingga hilang kekhusyukannya. Majelis ta’lim, resah karena bunyi hp bersahut-sahutan. Khutbah jum’at mriang, karena jamaah tak mengindahkan mematikan hp-nya. Teman serumah terasing, karena sibuk memencet gadget. Yang dekat jadi jauh.

Dan yang lebih penting lagi, dengan cara ini, manusia bisa mengurangi kemungkinan menjadi pecundang – budak/jajahan teknologi, suatu kondisi dimana manusia dibuat ulang, diformat ulang oleh mesin-mesin yang bernama teknologi yang dibuatnya sendiri. Sebab manusia adalah khalifatul ardh, yang harus tetap menjadi pemimpin dan pengatur dunia ini. Ingatlah amanah Allah; “Dia-lah yang menjadikan kamu sebagai khalifah di muka bumi ini.” (QS Faathir 39).

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment