Maling

malingTiba – tiba saja memoir saya teringat lagu Mus Mulyadi era 80-an. Rasanya lagu itu sangat terkenal kala itu. Tandanya sering diputar di radio – radio. Karenanya, walau saya masih kecil, sedikit banyak saya hafal liriknya.

Mo, mo, mo, mo, Romo, ono maling ( Ayah ada pencuri)

Tulungono anakmu lagi kelangan (Tolonglah anakmu yang sedang kehilangan)
Mo, mo, mo, mo, Romo, ono maling ( Ayah ada pencuri)
Rino wengi kelap kelip ra karuan (Siang – malam kelap – kelip gak karuan)

Lagu ini bercerita tema cinta yang dikemas dengan apik oleh Titik Puspa. Tak lain mengisahkan seorang lelaki yang dicuri hatinya oleh seorang wanita, walau menggunakan kata – kata yang agak kasar yaitu maling. Maksudnya maling hati.

Entah benar, entah tidak, lagu ini serasa terbukti sekarang. Banyak maling di sekitar kita. Mulai dari yang kecil sampai yang besar. Belum lama seorang teman bercerita. Katanya, ia baru saja menerima office boy yang masih muda belia. Pemuda ini datang dari sebuah desa terpencil di Jawa Tengah. Anaknya cerdas biarpun cuma lulusan SMA. Teman saya menerima pemuda ini karena terkesima oleh keluguan dan tingkah laku yang menunjukkan kejujuran dan kepolosan.

Tapi, dua bulan kemudian, office boy itu terpaksa dipecat. Ia ketahuan mencuri uang petty cash. Saat diinterogasi, ia mengaku polos bahwa kegiatan maling itu ia jalani karena desakan teman-teman sesama office boy. Minggu-minggu pertama, ia sama sekali tidak mau menjadi maling. Ia ingat nasihat guru mengaji di desa. Tapi ia lalu dimusuhi oleh teman-temannya.

Ia juga bingung. Di antara teman-temannya, kegiatan maling di kantor malah seperti lomba. Selalu didiskusikan, dan yang paling pandai menjadi maling selalu disoraki. Seolah maling itu sama martabatnya dengan pahlawan. Akhirnya ia bingung total. Daripada dimusuhi, akhirnya ia memutuskan maling juga. Ia dianggap bodoh kalau tidak memanfaatkan kesempatan. Terpaksa ia menyerah juga.

Mendengar cerita itu, saya tiba-tiba merasa ikut bersalah. Tanpa saya sadari, saya juga terlibat ikut menyoraki budaya maling. Saya selalu berpartisipasi aktif dalam setiap pemberdayaan kesempatan. Dari mengurus KTP, paspor, hingga tertangkap polisi di jalan. Saya justru membuka jalan untuk maling.

Lain sekarang, lain dahulu. Suatu ketika Nabi Musa AS berjalan kaki melewati sebuah perkampungan, ia merasa heran karena kampung tersebut sangat sepi. Rupanya para penduduk kampung berkumpul di suatu tanah lapang. Di depan mereka ada seorang laki-laki yang diikat di sebatang pohon.

Waktu ditanya oleh Nabi Musa, “Kenapa dia diikat?” Mereka menjawab, ”Ya Musa! Inilah laki-laki yang mencuri barang-barang kami. Saat ini kami akan menghukum dia. Karena engkau singgah di sini, maka kami serahkan masalah ini kepadamu supaya engkau bertindak sebagai hakim!”

Nabi Musa menerima tugas tersebut dan berkata ”Baiklah! Bila saya diangkat menjadi hakim, maka ada beberapa hal yang harus kalian lakukan. Yaitu, pertama, silakan semua orang mencari senjata untuk menyakiti pencuri ini.”

Setelah semuanya mendapatkan senjata, Nabi Musa memberi tugas yang kedua, ”Siapkan senjatamu, angkat ke atas dan lemparkan ke tubuh laki-laki itu. Syaratnya yang berhak melemparkan senjatanya adalah mereka yang belum pernah menjadi maling.”

Apa yang terjadi? Setelah ditunggu sampai setengah jam tidak ada satu pun yang bergerak, dan melemparkan senjatanya. Tak lama kemudian majulah seorang kakek sambil berkata, ”Ya Musa! Walaupun kau tunggu sampai satu hari pun, tidak akan ada satu orang pun dari kami yang bereaksi, karena kami semua pernah jadi maling.”

Cerita maling, sekarang ini jarang kita temui seperti cerita maling jaman dulu. Dulu ada yang disebut maling budiman, maling yang mengambil harta orang kaya untuk dibagikan kepada orang miskin atau yang tidak punya. Dia sendiri tidak memerlukannya, cukup sekedarnya. Makanya jarwo dhosoke maling itu jupuk amale wong sing ora eling (mengambil barang orang yang lupa diri selalu numpuk – numpuk harta).  Kalau sekarang kagak ada cerita maling budiman. Semua maling itu jelek. Bahkan saking jeleknya, kalau ketangkap sudah pasti dihajar, digebukin dan kalau perlu dibakar hidup – hidup. Ngeri. Sebab maling sekarang bukan lagi sebentuk perlawanan terhadap ketimpangan, tetapi lebih sebagai perilaku dan penyakit sosial masyarakat.

Kita banyak menengarai maling, baik yang kelas kakap maupun kelas teri. Bahkan para perompak itu lebih borju hidupnya dan disegani di sekitarnya. Aneh. Tetapi itulah realitanya. Oleh karena itu, jangan sampai kita ini menjadi maling. Dalam suatu kesempatan seorang teman, sambil membolak-balik koran ia geleng-geleng kepala. Katanya, “Negeri ini sudah dirasuk setan maling.” Sambil berkelakar, ia menjelaskan bahwa maling yang tadi  suka dikejar massa hanyalah maling lapar, yang kemungkinan kepepet dan kehilangan akal untuk mencari nafkah. Dia maling karena lapar.

Tapi lain lagi berita di koran, pejabat dan pengusaha adu lihai menjadi maling. Karena ingin cepat kaya, jalan pintas ditempuh. Lalu ada yang maling karena memanfaatkan kekuasaan. Teman tersebut menyebutnya maling mumpung. Yang paling berbahaya tentu saja maling yang mencuri karena serakah. Jenis ini akan mencuri terus tanpa terpuaskan. Maling ini tidak akan pandang bulu. Pokoknya, ia akan maling sampai ketahuan.

Mental maling, menurutnya, sudah meracuni hingga ke sumsum. Kegiatan maling dilakukan oleh hampir semua orang, maka kegiatan maling dianggap sah-sah saja. Maling dianggap sebagai pemberdayaan kesempatan. Ini bejat sekali. Pejabat merasa ada kesempatan, lalu maling. Pengusaha diberi kesempatan oleh pejabat, ikut pula menjadi maling. Celakanya, yang menangkap maling, kalau diberi kesempatan, sering pula menjadi maling. Pokoknya, parah sekali budaya maling ini.

Tapi sadarkah kita bahwa sebenarnya potensi menjadi maling ada pada diri kita semua? Simak hadits berikut. Rasululloh SAW bersabda; ”Seburuk-buruk pencuri adalah orang yang mencuri shalatnya.” Mendengar perkataan ini, para sahabat bertanya: ”Ya Rasulullah, bagaimana orang mencuri shalatnya itu?” Berkata Rasulullah SAW: ”Yaitu tidak ia sempurnakan ruku’nya dan sujudnya.” (HR Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Qatadah).

Kenapa dikatakan paling jelek? Ini yang jarang kita temukan jawabannya. Karena yang kita curi adalah hak kita sendiri, tabungan kita sendiri. Umumnya mencuri atau maling itu ya punya orang lain. Tapi dalam sholat justru yang dicuri itu adalah kewajibannya sendiri. Bakal miliknya sendiri nanti di alam sana. Tapi begitu tega justru malah dikemplang sendiri. Kalau banyak cukong yang kalap dengan pencurian kayu, itu biasa. Karena yang diambil adalah bakal milik anak cucunya nanti. Banyak taipan ngemplang BLBI karena dia tahu itu adalah punya negara. Kalau tidak dia yang ambil mungkin orang lain yang dapat. Tapi kalau milik sendiri, tapi dicuri sendiri, sungguhlah keterlaluan namanya.  Jadi seolah-olah tidak tahu cara mencuri, sampai-sampai punya sendiri dicuri.

Memang kita hidup di jaman yang sulit. Kata orang negeri kita penuh kecurangan dan kekurangan. Banyak maling dan brandal. Janganlah kita terpengaruh untuk menjadi maling secara profesional, rame-rame. Cukuplah kita menjaga agar tidak menjadi sejelek-jeleknya maling, yaitu merampok diri sendiri.

Kalau boleh berandai, kita hidup di dalam cerita di atas, apakah kita termasuk orang yang melempar senjata atau diam saja? Mari berhitung kembali dengan harta dan diri kita.  Daripada bingung, lebih baik lantunkan bait lagu Mus Mulyadi berikutnya.
Ngono yo ngono,
Ngona ngono ning ojo ngono…
Ngono yo ngono,
Ngona ngono ning ojo ngono…

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment