Makan Pisang

pisangApa susahnya makan pisang? Semua orang pasti bisa. Ambil pisangnya, kupas kulitnya, makan buahnya. Selesai. Gampangkan? Tunggu dulu. Kalau menyangkut tata krama atau etika, lain ceritanya. Tata krama memang bukan sekadar basa-basi. Tata krama mempunyai arti penting dalam pergaulan. Dan karena pada dasarnya semua orang ingin mempunyai pergaulan yang luas dan bermutu, maka wajar pula bila setiap diri dituntut untuk memahami tata krama sepenuhnya. Apalagi kalau yang dibidik adalah akhlaqul karimah. Sebagai bagian dari ibadah.

Sebagai contoh, coba terka mana yang benar dari tiga cara makan pisang berikut ini. Pertama, dikupas kulitnya lalu langsung dimasukkan ke mulut. Kedua, dikupas habis kulitnya, ambil isi buahnya, dan langsung dimasukkan ke mulut sedikit demi sedikit. Ketiga, dikupas kulitnya, pegang dengan tangan kiri, lalu tangan kanan mematahkan isi buah pisang sedikit demi sedikit untuk dimasukkan ke mulut. Jawaban akan saya berikan di akhir tulisan ini.

Dan tata krama memang selalu menyangkut hal-hal yang sepele. Jangan besendawa sehabis dijamu makan, kecuali di negara-negara Timur Tengah. Jangan menusukkan hashi  (sumpit makan) pada mangkuk nasi, kecuali dalam persembahan di kuil. Jangan menampakkan telapak sepatu ketika duduk berhadapan atau berdampingan dengan rekan bisnis. Semua itu tentu sulit dapat kita pahami kalau kita tidak pernah mempelajarinya. Kesempatan untuk belajar, tidak pernah kurang. Begitu banyak buku yang diterbitkan untuk menolong kita memahami tata krama, baik yang bersifat internasional maupun yang bersifat kedaerahan. Doing Business in Japan, Table Manners dan buku-buku semacam itu sudah tersedia di toko buku. Dan, percayalah, masih banyak misteri yang belum kita ketahui tentang tata krama.

Orang akan dihargai bila ia pun menghargai yang lain. Dan penghargaan kepada orang lain itu dimanifestasikan dalam bentuk tata krama. Banyak orang mengatakan bahwa tata krama itu dimulai dari rumah – van huis uit. Ini banyak benarnya. Tetapi, jangan dipakai sebagai excuse. Karena tata krama bisa dipelajari. Apalagi jika dikaitkan dengan masalah tuntutan dan tuntunan beragama.

Dari Abu Huroiroh, berkata Rasululloh SAW, bersabda: “Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik “. (HR. Ahmad fii Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1 Hal 402).

Abdullah bin Ash ra. berkata: Akhlak Rasulullah bukanlah orang yang keji dan bukan orang yang jahat, bahkan dia bersabda “Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik budi pekertinya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh”. (Al-A’raaf: 199)

Bahkan secara aplikatif, perintah ayat ini mampu membendung emosi Umar bin Khaththab saat mendengar kritikan pedas Uyainah bin Hishn atas kepemimpinan Umar. Uyainah berkata kepada Umar, “Wahai Ibnu Khaththab, sesungguhnya engkau tidak pernah memberi kebaikan kepada kami dan tidak pernah memutuskan perkara kami dengan adil”. Melihat reaksi kemarahan Umar yang hendak memukul Uyainah, Al-Hurr bin Qays yang mendampingi saudaranya, Uyainah, mengingatkan Umar dengan ayat Makarimil Akhlak, “Ingatlah wahai Umar, Allah telah memerintahkan nabi-Nya agar mampu menahan amarah dan mema’afkan orang lain. Sungguh tindakan engkau termasuk perilaku orang-orang jahil”. Kemudian Al-Hurr membacakan ayat ini. Seketika Umar terdiam merenungkan ayat yang disampaikan oleh saudaranya. Dan semenjak peristiwa ini, Umar sangat mudah tersentuh dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menegur tindakan atau perilakunya yang kurang terpuji. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas).

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat bobot timbangan pahalanya daripada akhlak yang baik”. (HR. Abu Daud Kitabul Adab)

Nah, kalau makan pisang saja pakai etika, ada tata kramanya, tentu keseharian kita yang lain harus pula mengikutinya. Bukan untuk gagah-gagahan, melainkan sebagai bentuk bangunan hubungan yang harmonis dan menyenangkan. Baik dengan sesama manusia, maupun ketika menyangkut hubungan dengan Allah lewat agama.  Untuk itu mari sempurnakan akhlaq kita menuju akhlaqul karimah. Akhlaq yang mulia, terpuji dan berpahala. Dan yang pasti tentu sesuai aturan Allah, Rasul dan norma –norma masyarakat yang ada.

Nah, kembali ke pertanyaan di atas. Jawabannya adalah yang terakhir, menurut tata krama internasional. Dikupas kulitnya, pegang dengan tangan kiri, lalu tangan kanan mematahkan isi buah pisang sedikit demi sedikit untuk dimasukkan ke mulut. Susah ya? Atau EGP? Monggo saja. Terakhir simaklah sedikit perkeling berikut: ”Maka dari itu, jangan sampai ujar-ujar ini terjadi pada kita, yaitu: Dahulu, ketika tiang-tiang suraunya dari kayu, ikhwannya berhati emas. Kini, ketika tiang suraunya telah dari emas, ikhwannya berhati kayu.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment