Lukman

lukmanKeponakan saya, dari jalur istri, diberi nama Lukman. Lengkapnya Lukman Juang Wicaksono, sebab sedari kecil sudah berjuang untuk hidup dengan jantung yang bocor. Alhamdulillah, sekarang sudah sehat sebagai hasil ikhtiar operasi di Aussie. Kakak kelas saya di IPB, Jurusan Kimia Angkatan I, juga bernama Lukman, tepatnya Lukmanul Hakim. Ia menjabat Ketua HIMAKI yang cukup disegani pada masanya, dengan gaya khas kepemimpinannya yang memikat. Berikutnya, salah satu aghnia di Bogor yang kebetulan saya kenal, juga bernama Lukman. Dengan nama lengkap Lukman Sastra. Dan banyak lagi Lukman-Lukman lain tentunya, termasuk salah satu rekan sejawat di project department bagian document control dan satu lagi di field engineering. Atau Lukman Sardi, si aktor ganteng Sang Pencerah. Atau Lukman Niode, atlet renang idola saya. Dari sederet nama Lukman, tentu tidak akan afdhal dan tidak adil, jika tidak menyebut nama Lukman seperti yang tertulis di dalam Al-Quran Al-Karim. Menurut hemat saya mereka semua terinspirasi dengan nama Lukman yang diceritakan Allah di dalam KalamNya.

Imam Ibnu Katsir, dalam Kitab tafsirnya, menyebutkan Lukman, yang namanya diabadikan menjadi nama Surat dalam al-Qur’an (QS:31), adalah hamba yang shalih, seorang budak Ethiopia berkulit hitam yang tukang kayu. Ini pendapat salaf yang paling banyak. Dia juga menyebutkan bahwa ada riwayat lain yang menyebutkan kalau Lukman adalah seorang Nabi. Nabi atau bukan, yang jelas ia orang shalih. Walau budak dan bukan orang berpangkat, yang jelas dia salah satu orang yang diberi hikmah oleh Allah melebihi manusia kebanyakan. Simaklah  bagaimana Allah menyebutnya dalam Kitab Sucinya.

Allah berfirman; “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman supaya bersyukur kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”(QS Lukman:12)

Apa sih hikmah yang diberikan Allah kepada Lukman? Tegasnya bisa disimak di ayat-ayat berikutnya, mulai dari ayat 13 sampai dengan ayat 19. Menyimak dan merenungkannya pasti akan berkomentar, Subhanallah….!, pantas saja Allah menjadikannya sebagai teladan bagi umat manusia. Nasehatnya jelas, runut, rancak dan sarat makna. Pituahnya membumi, penuh arti. Pituturnya sederhana, hingga melegenda. Pada ayat 13, misalnya, Lukman memberi nasehat untuk tidak syirik kepada Allah, karena itu kedhaliman yang besar. Pada ayat 14, mengajak bersyukur kepada Allah dan kedua orang tua. Selanjutnya ayat 15, bercerita tentang  bagaimana mengelak, jika dipaksa untuk berbuat syirik, walau oleh orang tua sekalipun. Ayat 16 menyebut pentingnya kebaikan yang tidak akan hilang di mata Allah, sekecil apapun kebaikan itu. Di ayat 17 mengajak mendirikan sholat, amar ma’ruf nahi mungkar dan shabar atas segala cobaan. Kemudian dirangkai di ayat 18 dengan tidak sombong, santun dalam berbicara dan hidup sederhana di masyarakat seperti tersebut di ayat 19. Walau konteksnya member nasehat kepada anaknya, sejatinya itu nasehat buat kita semua.

Nah, Ibnu Katsir juga tak lupa menambahkan sebuah riwayat salah satu hikmah yang disampaikan oleh Lukman di kehidupannya. Yang ini tidak tertulis di KitabNya dan jarang sekali terdengar. Dari Khalid Ar-Rib’iy dia berkata; “Lukman adalah seorang budak Habsyi lagi tukang kayu, suatu kali, sang majikan menyuruhnya menyembelih seekor domba dan berpesan agar bagian yang paling lezat dihidangkan kepadanya. Lalu, Lukman menyajikan sepotong hati dan lidah. Selang beberapa waktu kemudian, sang majikan kembali meminta disembelihkan seekor domba lagi dan menyajikan bagian yang tak enak untuknya. Lalu, Lukman menghidangkan hal yang sama yakni sekerat hati dan lidah. Sang majikan penasaran dan bertanya, ”Hai Lukman, mengapa engkau menyajikan hidangan yang sama? Ketika aku meminta bagian yang paling enak dan yang paling tidak enak, engkau menghidangkan hati dan lidah

Lukman menjawab dengan bijaksana, ”Sebab tidak ada yang lebih baik daripada hati dan lidah bilamana ia baik, dan tidak ada yang lebih tidak enak daripada hati dan lidah bilamana ia buruk”.

Masya Allah, nasehat yang dalam. Mungkin kita ingat hadits Nabi SAW masalah hati ini. ”Sungguh dalam tubuh manusia ada segumpal darah. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Apabila ia buruk, maka buruklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, bila ia adalah hati.” (HR. Bukhari).  

Secara fisik, hati (kalbu) adalah hati atau jantung yang menjadi sentral dalam jasmani manusia. Secara metafisik, hati adalah wadah dan pusat aktifitas diri dan menampung segala bentuk sikap, perbuatan dan fikiran manusia. Sementara, lidah secara fisik adalah organ yang membuat manusia bisa berbicara. Tapi secara metafisik, lidah adalah ucapan yang keluar dari mulut manusia. Sungguh, hati dan lisan tidak bisa dipisahkan. Hati adalah wadah yang menampung segala macam tindak tanduk manusia, sementara lisan adalah corong (saluran) untuk mengungkapkan isi hati manusia.

Hati laksana mata air. Jika mata airnya bening, maka yang mengalir juga bening, bahkan bisa diminum tanpa dimasak dahulu. Tapi, bila mata air keruh, air yang mengalir pun keruh. Bagaimana isi hati, itu pula yang terucap. Maka, jagalah hati, jangan dikotori. Jika hati bersih, maka ucapan yang terlahir pun bersih. Jika hati kotor, maka ucapan yang hadir pun kotor. Jangan suka sakit hati. Dan jangan sering makan hati. Selain bisa bermasalah dengan kolesterolnya, sirosis itu berbahaya.

Itulah sedikit perkeling dari hamba sholih bernama Lukman. Tidak usah mempermasalahkan dia ditulis pakai k – Lukman atau pakai q – Luqman, yang terpenting mari mencoba meneladaninya dengan seksama.

Semoga bermanfaat.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment