Kekinian

kekinianRupanya, tak disengaja, saya punya kebiasaan baru.  Dulu suka menjinjing laptop ke mana – mana. Orang bilang kayak keong. Ditambah penuh cemas akan rusak dan kehilangannya. Maklum barang mahal. Sekarang berganti dengan sebuah buku bacaan. Apa saja. Murah, mudah gak takut rusak dan ringan dibawa. Bukan i-pad atau gadget canggih lainnya, karena memang belum punya. Tetapi malah ke yang konvensional.  Dan terasa enak sekali rasanya menunggu sambil membaca. Bukan meniru di negara – negara maju, tetapi semacam keasyikan tersendiri. Memang, kebanyakan orang  menunggu dengan mata agak kosong, tanpa kegiatan apa-apa, kecuali duduk atau mondar-mandir. Atau mereka yang relegius terus – menerus menekuk jemari dan melantunkan kalimat thayyibah. Dzikir dan sebangsanya. Namun hanya satu – dua. Umumnya do nothing. Sedangkan di Inggris sebagai contoh, apa lagi di Jepang, orang menunggu sebagian besar sambil membaca. Nyaman dan enak dipandang mata.

Ternyata, ada kekuatan tersendiri. Semacam ketekunan mengagumkan. Sebuah kegiatan penuh makna. Hasilnya, ketika yang ditunggu datang, entah itu kereta, bus, kapal atau pesawat, waktu seperti sangat bersahabat. Ia berlalu lengkap dengan rangkaian makna yang memang dicari. Hanya saja di manapun negaranya, siapapun orangnya, berapapun umurnya, setinggi apapun status sosialnya, sebagian lebih manusia – manusia di bumi ini memiliki pekerjaan panjang melelahkan yang tidak mengenal henti dalam hidup yaitu: menunggu!

Ada yang menunggu jatuhnya sebuah rezim. Ada yang menunggu giliran naik ke tampuk kekuasaan. Ada yang menunggu bersihnya negeri dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Ada yang menunggu anak-anak selesai sekolah dan kemudian bekerja. Ada yang menunggu ujian akhir, agar cepat dapat gelar dan ijazah. Ada yang menunggu jam makan, agar segera mulut terpuaskan. Ada yang menunggu agar cepat-cepat sampai di rumah. Ada yang menunggu punya rumah besar dan megah. Ada yang menunggu punya mobil mewah. Bahkan , ada yang menunggu godot.  Pokoknya menunggu, menunggu dan hanya menunggu. Sehingga dalam totalitas  waktu hidup manusia, mungkin lebih dari 90 persen isinya menunggu. Jika plus datangnya ajal, komplet 100 % kehidupan manusia adalah menunggu.

Bagi orang-orang tertentu, menunggu bahkan dibawa sampai ke alam mimpi. Bayangkan, kerap mereka bermimpi menunggu, atau bermimpi sudah sampai tujuan. Berbeda dengan menunggu kereta atau pesawat misalnya, kecewa datang dalam frekuensi yang lebih jarang. Bila yang ditunggu sepuluh jadwal kereta, mungkin kurang dari setengahnya saja yang berujung kecewa. Namun, mereka yang hanya mengenal menunggu dalam hidup, hampir selalu berujung kecewa dan kecewa.

Lihat saja kumpulan manusia yang disebut rakyat. Ketika sebuah rezim dianggap tidak adil, ia menunggu datang rezim berikutnya. Tatkala rezim berikutnya datang, ia membawa bendera kekecewaan. Mereka yang rindu kursi kekuasaan juga serupa. Ada saat giliran itu datang, dan ketika datang yang tersisa hanya rasa serakah yang hambar. Demikian juga dengan orang tua yang menunggu anak-anaknya. Ketika selesai wisuda dan bekerja, anak – anak sibuk dengan kehidupannya sendiri.  Orang tuanya menganggap mereka lupa, dan ujung-ujungnya juga kecewa. Mereka yang menunggu rumah megah dan mobil mewah juga sama. Empuknya suspensi mobil baru hanya terasa sebulan. Segarnya udara rumah megah paling lama terasa tiga bulan. Berikutnya, diganti dengan rangkaian hal yang serba biasa, hambar dan ketertinggalan.

Seorang sahabat di dunia kejernihan pernah bertutur: as soon as the desired objects are obtained, the happiness ends and new desires arise. Begitu sesuatu yang diinginkan diperoleh, kebahagiaannya berakhir dan keinginan baru muncul. Dengan kata lain, setiap garis finish pencaharian menjadi garis start baru untuk pelarian berikutnya yang lebih berat. Bisa dimaklumi kalau kemudian kehidupan berwajah berat, keras, lelah, stress dan sejenisnya.

Berefleksi di atas cermin-cermin kehidupan seperti inilah, maka sejumlah pejalan kaki di jalan-jalan kejernihan dengan penuh keberanian menghentikan kegiatan menunggu. Untuk kemudian berkonsentrasi pada masa kini. Mungkin layak diendapkan, kalau salah satu diantara pejalan kaki ini pernah berucap: ‘satu-satunya hidup yang rill dan hidup adalah hari ini. Masa lalu sudah mati, masa depan belum datang’. Memang ada benarnya sahabat yang menyebut kalau masa depan disiapkan sejak hari ini. Cuma, bila begitu sampai kebahagiaannya hilang digantikan oleh keinginan yang baru, kesia-siaan hanya bisa dihindari kalau berkonsentrasi di hari ini.

Seorang penulis, Eckhart Tolle dalam The Power of NOW, bahkan berani berspekulasi : “authentic human power is found by surrendering to the Now”. Tidak saja kegiatan menunggu yang berhenti, tidak saja kecewa yang berkurang, bahkan kekuatan otentik manusia bisa ditemukan ketika manusia ikhlas total pada masa kini. Di bagian lain Tolle menulis : it is here we find our joy, are able to embrace our true self. It is here we discover that we are already complete and perfect.

Allah SWT dengan segala kuasanya bertitah dengan bajik lewat firmanNya; Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS Ar-Ra’d 22-24)

Di sini, di hari ini, dengan meminjam kata kesabaran, Allah bermaksud agar kita bisa berpelukan dengan diri kita yang sebenarnya. Di tempat yang sama juga kita bisa merasakan betapa kita sudah lengkap dan sempurna.  Kesabaran adalah kekinian. Siapapun manusianya, ketika sudah berani melangkah yakin ke hari ini, berpelukan dengannya, apa lagi menemukan kesempurnaan di sana, itulah tanda-tanda kalau kita mulai keluar dari lingkaran menunggu dan kecewa. Betapa dahsyatnya kesabaran, yang berganjar kenikmatan di surga Adn.

Di ayat lain Allah SWT menegaskan; “Sifat-sifat yang baik itu (surga) tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS Fushilat 35).

Bahkan dengan penuh kasih, Allah mengingatkan; “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah 45 – 46).

Di sebuah jendela kehidupan, pada sebuah persimpangan – ada seorang pengemis yang duduk tidak pernah berpindah selama puluhan tahun. Ia mengemis di tempat itu terus. Seorang pejalan kaki memperhatikannya sambil bertanya : ‘Apa yang dicari di sini terus – menerus?’.

Dengan tenang pengemisnya menjawab : “Tidak mencari apa-apa”.

Heran dengan jawaban seperti itu, orang asing tadi membuka paksa kotak pengemis tadi. Dan ternyata di tengahnya berisi emas dan berlian.

Cerita ini memang hanya kiasan. Orang lain memang tidak bisa memberi apa-apa sehingga tidak perlu diminta dan ditagih. Dan di hari ini di dalam sini, sebuah tempat yang sering kita lupakan dan
tinggalkan melalui kegiatan menunggu dan kecewa, di sanalah emas dan berliannya berada. Adakah sahabat yang sudah pernah menemukan emas dan berlian di sana? Atau tidak peduli sama sekali!

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment