Kado Awal Tahun

2013Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? (QS At-Tiin:1-8)

Sengaja saya kutip Surat at-Tiin ini sebagai kado awal tahun. Surat ke 95 dari susunan 114 surat di Mushaf ini, diturunkan di Mekah, dan merupakan surat yang pendek dengan 8 ayat saja. Banyak juga imam-imam sholat yang sering memperdengarkan surat ini karena memang mudah dihafal. Bahkan Nabi SAW sendiri suka membaca surat ini, ketika mengerjakan sholat safar atau berpergian. Namun bukan itu yang ingin saya sampaikan.

Banyak cara dilakukan orang untuk menyambut datangnya tahun baru. Pada umumnya, acara yang bertajuk muhasabah adalah yang paling digemari. Acara instrospeksi diri ini sering dilakukan orang untuk mengukur pencapaian – pencapaian yang ada dalam hidup dan kehidupan ini. Bagaimana kinerjanya selama tahun 2012 ini? Bagaimana dengan target – target yang telah ditetapkan tadi? Tercapaikah? Meleset? Atau ada target lain yang tak terduga. Maunya A, dapatnya B. Habis itu, kemudian beramai-ramai menyusun target – target baru di tahun 2013 ini. Ada yang ingin pekerjaan baru. Ada yang pengin naik jabatan. Ada yang bertekad memiliki rumah, mobil, atau gadget terbaru. Dan masih banyak lagi yang lain.

Tak jarang, pola-pola instrospeksi semacam itu – tanpa disadari – membawa banyak jatuh korban. Ada yang terdepak dari pekerjaannya karena target tidak tercapai. Ada yang turun jabatan karena KPI meleset. Ada yang terkena pinalti karena jauh di bawah sasaran. Ada yang terjun dari gelanggang karena gagal mempertahankan reputasi. Dan banyak lagi korban – korban pengukuran kehidupan dengan pola gagal dan sukses ini. Bahkan ada yang tragis dengan mengakhiri hidup ini segala. Jadilah, di sebagian orang kehidupan seolah berwajah kejam. Tampaklah bagi sebagian mata, kehidupan berwajah garang, menakutkan. Untuk itu mari tinggalkan pola-pola lama ini, dalam rangka meningkatkan mutu dan menemukan indahnya kehidupan ini.

Mengukur kehidupan dengan pencapaian target-target adalah hal biasa. Mengukur kehidupan dengan kegagalan –kegagalan juga hal biasa. Memasuki tahun 2013 ini, katakanlah bahwa mengukur kehidupan dengan keberhasilan dan kegagalan itu kuno. Usang. Mati gaya. Ia hanya akan menambah rumit hidup ini. Sadarilah bahwa hidup bukan sekedar target-target. Hidup bukan sekedar kegagalan – kegagalan. Sebab hidup itu adalah rangkaian dari kegagalan dan kesuksesan. Kadang gagal, kadang sukses. Tak ada yang gagal terus. Tak ada juga yang sukses terus. Oleh karenanya, dikatakan hebat, luar biasa, super, dahsyat, mengagumkan, jika memampukan untuk melihat, baik kesuksesan dan kegagalan yang datang dalam hidup ini sebagai satu – kesatuan: anugerah terindah.

Kala mendapat sukses, memuji Allah dan bersyukur, tidak sombong atau takabur. Ia sadar kesuksesan sedang mampir kepadanya. Tatkala mendapat mushibah – kegagalan, bersabar dan mencari pahala di sisiNya. Ia faham, kesusksesan baru pergi dan giliran kegagalan dan mushibah yang menghampiri. Persis seperti datangnya gelap malam, menggusur terangnya siang. Terus berputar seperti itu. Sepanjang hari, sepanjang jaman. Hanya orang-orang konyol saja, yang ingin siang terus atau malam terus emoh berganti siang dan malam. Padahal di situlah letak keindahan yang dimaksudkan oleh Yang Kuasa.

Rasulullah SAW bersabda, “Aku heran terhadap orang iman, jika menimpa kepadanya kebaikan, maka ia memuji Allah dan bersyukur, dan jika menimpa kepadanya musibah, ia mencari pahala dan sabar. Orang iman itu diberi pahala di dalam tiap – tiap sesuatu sehingga di dalam suapan yang diangkat ke dalam mulutnya.” (Rowahu Ahmad)

Hal inilah yang ingin saya sampaikan lewat kado surat at-Tiin di atas. Simaklah pertanyaan Allah dalam Surat At-Tiin ayat terakhir: Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? Siapa lagi kalau bukan Allah yang paling baik dan paling adil dalam memberikan hukum. Dengan pemahaman seperti ini, berarti apa yang kita terima sampai saat ini, itulah yang terbaik yang diberikan Allah kepada kita manusia. Maka tersebutlah dalam sebuah Hadis yang dirawikan Tirmidzi dari Abu Hurairah, “Barangsiapa yang membaca ‘Wat tiini waz Zaituun’ sampai ia membaca ‘Alaisallaahu bi Ahkamil Haakimiin’ ; maka hendaknya ia mengucapkan: ‘Balaa Wa Ana ‘Alaa Dzaalika minasy Syaahidiin’ (Ya, dan aku atas demikian itu termasuk orang-orang yang menyaksikan).”
Nah, memasuki tahun 2013 ini, sambil terus melakukan instrospeksi alias mawas diri, semoga kado kali ini benar-benar bisa menambah arti untuk kemajuan diri. Bukan masalah harta-benda tentunya, namun lebih ke ranah pembangunan mentalitas, kemajuan spiritualitas, sehingga menjadi manusia yang paripurna. Lahir – batin. Lewat surat at-Tiin ini, semoga bisa memahami hidup dan menikmati kehidupan ini penuh makna dan apa adanya. Jangan lagi terjebak dalam kesuksesan dan kesuksesan terus. Jangan juga terkotak dalam kegagalan – kegagalan terus. Mari wujudkan paradigma baru, sebuah pandangan, sebuah keyakinan bahwa apa yang kita terima hari ini adalah yang terindah yang diperuntukkan kepada kita dari Allah Sang Maha Adil. Hiasilah hidup ini dengan perbuatan – perbuatan baik dan indah. Niscaya terjaga terus keimanan kita dan terus menuai pahala dan pahala, hingga menjadi orang yang mulia. Ujung-ujungnya, ketika kita membaca kembali surat at-Tiin ini dan sampai pada ujung akhir ayatnya dengan menjawab; ‘Balaa Wa Ana ‘Alaa Dzaalika minasy Syaahidiin’, kita benar – benar telah memahami dan mengamalkannya. Amin.
Semoga bermanfaat.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment