Imam sholat

sholatDari Abu Umamah r.a., dia berkata, Rasululloh SAW bersabda; ”Tiga orang yang sholatnya tidak melewati telinga mereka, yaitu: seorang budak yang kabur dari majikannya sehinnga dia kembali kepadanya, seorang wanita yang bermalam sementara suaminya murka kepadanya, dan seorang imam bagi suatu kaum sementara mereka membencinya.” Diriwayatkan di dalam Sunan at-Tirmidzi dan dia berkata, ”Hadist hasan ghorib.”

Setelah saya deres lagi, sebenarnya saya sudah pernah menulis artikel ini sampai seri ke-5. Dan kali ini merupakan tulisan ke-6. Pada intinya hampir sama dengan apa yang pernah saya sampaikan terdahulu. Pada kesempatan kali ini, saya hanya ingin menyampaikan dalil-dalil yang berkenaan dengannya sebagai pemerkuat uraian sebelumnya. Sebab setelah saya mencari-cari, cuplikan dalil yang pernah disampaikan dalam dalil teks daerahan punya saya raib, entah kemana. Dan ketika menemukan kembali ingin rasanya berbagi, walau pun usang (kesannya).

Dalam pemanqulan yang saya terima ketika itu, keterangan dibenci adalah karena bacaannya. Bacaannya yang kurang baik, sehingga menjadikan imam dibenci oleh kaumnya. Oleh karena itu, beberapa waktu yang lalu digalakkan pembinaan bacaan-bacaan bagi imam sholat agar comply dengan dalil itu. Juga pengertian yang dimaksud imam adalah imam sholat, bukan imam dari segi kepengaturan. Hal ini diperkuat dengan dalil yang diriwayatkan oleh Tholhah bin Ubaidillah r.a dalam Kitab al-Mu’jam al-Kabir karya Imam ath-Thobroni.

Dari Tholhah bin Ubaidillah r.a. sesunguhnya dia menjadi imam suatu kaum, setelah selesai sholat dia berkata, “Sesungguhnya aku lupa meminta pendapat kalian sebelum aku maju, apakah kalian rela dengan sholatku?” Mereka menjawab, ”Ya, dan siapa yang membenci demikian itu wahai pembela Rasulullah SAW.” Dia berkata, ’Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Laki-laki manapun yang menjadi imam bagi suatu kaum sementara mereka membencinya, maka sholatnya tidak melewati kedua telinganya.

Menilik hadist ini, juga bisa kita fahami bahwa sebenarnya kebencian itu tidak hanya pada aspek bacaan saja. Secara umum kebencian itu timbul dari tingkah laku, budi pekerti. Hadist-hadist yang memperkuat hal ini bisa kita simak dengan jelas di K. Imaroh atau K. Umal. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa sholatnya si ma’mum itu syah walaupun imam sholatnya su’ atau imam sholatnya baik. Tetapi alangkah malangnya nasib si imam tersebut. Oleh karena itu, perlu dipahami bersama view dari ijtihad peningkatan kualitas bacaan imam yang digalakkan sampai hari ini. Bukan lagi masalah gengsi, thoat atau ta’dhim, tapi lebih kepada penyelamatan diri, figur seseorang dari ancaman hadist di atas. Tidak ada dalil yang tumpang – tindih, yang ada hanya egoisme kita yang memaksa suatu amalan menindih yang lain. Padahal sejatinya terjalin dengan jelas dan tuntas. Dimana salahnya? Ketika kita mengedepankan harga diri dan hawa nafsu. AJKH.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment