Ikhlash

IkhlasMemasuki tahun 2014, perkenankan saya berbagi . Tak bermaksud menggurui, tidak pula merasa pol sendiri. Masih setia meniti di jalan sepi ing pamrih, rame ing gawe. Semata mencari keridhaan Ilahi, saling mengingatkan, menasehati. Terus belajar dan instrospeksi, berpacu dalam kebaikan – fastabiqul khairat. Pada ujungnya berharap mudah-mudahan tulisan ini berguna dan memberi manfaat untuk kita bersama.

Kebetulan di akhir tahun 2013, saya berkesempatan cuti  panjang, sehingga bisa dipergunakan untuk menemani liburan anak-anak, asramaan Sunan Ibnu Majah 3 dan silaturahim ke sanak family.  Perjalanan panjang dengan banyak agenda ini, ternyata membuahkan siraman rohani yang dahsyat. Laksana wisata hati, banyak perkeling dan nasehat yang lugas dan mendalam. Terlebih ketika ketemu dengan Lik Par di desa Pagu Pamenang Kediri.

Ya, Lik Par, begitu kami memanggilnya. Ia adalah tante istri, dari jalur bapak. Saya tidak tahu nama lengkapnya. Memang kami jarang bertemu, Alhamdulillah atas kehendakNya, kami bisa berjumpa kemarin. Dan serasa sudah menjadi takdir kehidupan, berjam-jam kami mendapat pencerahan dan nasehat kehidupan bersamanya. Pribadinya santun, tutur katanya menawan, membalut usianya yang telah senja. Simaklah ucapan-ucapannya. “Alhamdulillah Mas, ketika mampir di Mojokerto, Bu Lik pesen kalau ada waktu semoga keponakan-keponakan bisa mampir. Ehh, lha kok keturutan. Kalau tidak atas kehendak Allah, ini gak mungkin.. Ayo-ayo,,,” Dengan guyubnya Lik Par menyambut kami. Aku pikir ini hanya basa-basi, namun barisan kata-kata yang meluncur selanjutnya benar-benar menyadarkan kami akan mauidhatul hasanah.

Katanya, “Cobalah untuk selalu berbuat baik dalam hidup ini. Buat apa toh, berbuat jelek. Ngomong sak  ngomong, ya harus dijaga. Wong sama-sama ngetokke abab, mbok ya pilih yang baik. Jangan mengeluarkan nafas (abab) untuk hal yang jelek.”

Rupanya, kehidupan telah mengajarkannya untuk memilih menjadi orang yang baik, walau dalam kehidupannya sendiri sudah sering dia dibohongi dan ditipu. Misal kalau mau dihitung-hitung, kisahnya, sudah dapat 2 mobil baru buah penipuan ini. Namun ia tetap sabar dan memilih jalur kehidupan yang baik ke depan. Pitutur yang dalam, mengingatkan saya akan wasiat Nabi SAW untuk selalu berkata yang baik atau pilih diam saja. Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam” (Rowahu Bukhory)

Berikutnya, ia mengingatkan agar sering-seringlah istighfar, bertobat, walau kita merasa tidak punya dosa. Sebab ketika seseorang merasa tidak punya dosa, itu sendiri sudah jatuh pada dosa alias sombong. Dalam hadits qudsi Allah berfirman; “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR. Muslim no. 6737). Dengan berkaca dia bercerita; “Apalagi Bu Lik ini, yang sudah mencederai Pak Likmu dulu. Rasa berdosa itu terus ada, bayangkan selama 2,5 tahun tidak mau dikumpuli suami dan pilih tidur di kursi. Sedangkan suaminya tetap di ranjang. Namun Pak Likmu tetap sabar. “

Inspiring. Bagaimana tidak, Nabi SAW sendiri saja dalam sehari minimal minta ampun 100 kali. Nasehat yang mengena di hati. Abul Yaman menuturkan kepada kami. Dia berkata: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari az-Zuhr’i. Dia berkata: Abu Salamah bin Abdurrahman mengabarkan kepadaku. Dia berkata: Abu Hurairah –radhiyallahu’anhu– berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (Shahih Bukhari, Hadits no 6307)

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Ghundar menuturkan kepada kami dari Syu’bah dari Amr bin Murrah dari Abu Burdah, dia berkata: Aku mendengar al-Agharr dan dia adalah termasuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dia menyampaikan hadits kepada Ibnu Umar. Ketika itu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah. Karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya seratus kali.” (Shahih Muslim, Hadits no 2702)

Puncaknya, ketika Lik Par berujar; “Mas, hidup ini harus ikhlash. Hadapi dan jalani hidup ini dengan penuh keihklashan. Tegar, pasrah dan senang apa pun hasilnya.” Nasehat ini begitu menyentak saya. Saya pikir-pikir bermuhasabah, banyak sesuatu yang saya lakukan ternyata belum diiringi dengan ikhlash yang benar, penuh keikhlashan dengan sebuah totalitas. Masih suka ngedumel, malas dan pikiran yang bercabang.

Gayung bersambut, setelah mendapat pembekalan dari Lik Par yang tidak bisa baca tulis quran ini, Allah mengirimkan cerita lewat teman tentang keihklashan. Fariduddin Attar dalam Tadzkiratul Awliya’ bercerita tentang tobatnya seorang zahid dan tabiin bernama Malik bin Dinar al-Sami (wafat pada 130 H atau 748 M), anak seorang budak Persia dari Sijistan (Kabul, Afganistan). Namun, lelaki tampan ini berhasil membebaskan diri dari perbudakan dan menjadi seorang yang kaya raya. Malik hidup pada masa Bani Umayyah, tepatnya zaman Muawiyah di Damaskus. Saat itu, Muawiyah sedang membangun masjid agung yang anggarannya sangat besar. Malik tertarik dan sangat ingin ditunjuk sebagai ketua takmir masjid itu. Keinginannya yang kuat mendorong dia menghamparkan sajadahnya di salah satu sudut masjid dan tampak khusyuk beribadah. Ia berharap, orang lain menganggapnya sebagai orang saleh.  Anehnya, pada malam hari ia meninggalkan masjid dan mencari hiburan di luar tanpa sepengetahuan orang-orang sekitar. Begitulah yang ia lakukan selama beberapa waktu lamanya.

Suatu malam, saat ia sedang menikmati alunan musik yang ia mainkan, tiba-tiba ia dikejutkan suara hatinya, “Malik, mengapa engkau tidak bertobat?” Mendengar suara hatinya, ia langsung menjatuhkan alat musiknya. Malik berlari ke sudut masjid yang biasa ia tempati. “Setahun penuh aku telah menyembah Tuhan secara munafik. Tidakkah lebih baik aku beribadah dengan ikhlas? Aku malu. Aku tidak akan menerima tawaran menjadi ketua takmir masjid meski mereka menunjukku.” Malam itu, Malik sudah tidak lagi beribadah seperti hari-hari sebelumnya.

Keesokan harinya, melihat perlunya seorang ketua takmir yang akan mengurus kemakmuran masjid, para jamaah dan pejabat kota pun menghampiri Malik. Kebetulan, Malik sedang shalat. Mereka menunggu dengan sabar. Saat Malik selesai shalat, mereka mengatakan, “Maaf mengganggu. Setelah bermusyawarah, kami sepakat menunjukmu sebagai ketua takmir masjid agung ini.”

Malik tertunduk, meneteskan air mata. “Ya Allah, aku beribadah kepadamu secara munafik sepanjang tahun dan tidak ada seorang pun yang memperhatikanku. Sekarang, ketika baru satu malam saja aku memberikan seluruh hatiku kepada-Mu dan memutuskan tidak menerima jabatan itu, Engkau mengutus 20 orang kepadaku untuk mengikatkan tugas itu di leherku. Demi keagungan-Mu, aku tidak menginginkannya.”

Pengalaman Malik bin Dinar, cerita Lik Par adalah kuliah-kuliah nyata kehidupan ini. Banyak orang dengan problem yang sama dalam masalah keikhlashan ini, lupa atau menyepelekannya. Padahal ikhlash adalah hal pokok yang tidak boleh tidak harus ada dan menyertai setiap ibadah, agar diterima olehNya.

Allah berfirman; “Ingatlah bagiNya agama yang murni (ikhlash)” (QS Az-Zumar 3).

Rasulullah SAW menguatkan; “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal perbuatan, kecuali amal perbuatan  yang diniatkan dengan ikhlash demi meraih ridhaNya.” (Rowahu Nasa’i)

“Ikhlashkanlah amalmu, niscaya mencukupi apa yang sedikit itu (amal yang diikhlashkan itu, walau cuma sedikit)” (Rowahu Ad-Dailami)

Nah, mumpung masih tahun baru, lembaran baru, suasana baru, sebagai instrospeksi, mari berbenah lagi. Membangun kembali keikhlashan bukanlah hal yang mudah, laksana menyibak sebuah misteri. Perlu waktu, perlu upadaya dan pertolonganNya. Teruslah dan jangan berputus asa.

Dalam Hadits Qudsi Allah berfirman; “Ikhlash adalah satu rahasia dari rahasia-rahasiaKu, Aku memasukkan ke dalam hati orang yang Kucintai dari hamba-hambaKu.” (Rowahu Al-Qusyairy)

Dan semoga kita termasuk orang yang dapat meraihnya di sisa waktu yang ada. Sebab ketika kita sudah bisa ikhlash, sebagai gambarannya, bukan hanya berucap Alhamdulillah ketika mendapat nikmat,  akan tetapi diiringi dengan rasa puas, tak berbalas dan kebahagiaan tiada batas untuk segera menyambung dan meyambungnya. Sudahkah?

Semoga bermanfaat.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment