Hitam dan Putih

hitam dan putihTerkadang kita suka bercanda-ria. Tak ada maksud jelek sedikitpun di dalamnya. Hanya untuk menghangatkan suasana. Ternyata, ada hal-hal yang ‘berbahaya’ dari itu. Perselisihan, salah faham dan hal-hal lain yang tidak diinginkan bisa datang karenanya.

 

Di dalam Al-Quran Allah berfirman;  Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (QS Yunus: 19)

 

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. (QS Hud: 118-119)

 

Menjelaskan sebagian dari fenomena dua ayat di atas, bisa disimak sebuah lelucon inspiratif di bawah ini. Seorang penggembala sedang menggembalakan domba-dombanya di padang rumput yang luas. Seorang peneliti yang kebetulan lewat  berkata,  “Engkau mempunyai kawanan domba yang bagus. Bolehkan  saya  mengajukan   beberapa   pertanyaan   tentang domba-domba  itu?”

“Tentu,”  kata  si gembala  itu.

 

Orang itu berkata, “Berapa jauh domba-dombamu berjalan setiap hari?”

“Yang  mana, yang putih atau yang hitam?”

“Yang putih.”

“Ah, yang putih berjalan sekitar enam kilometer setiap hari.”

“Dan yang hitam?”

“Yang hitam juga.”

 

“Dan berapa banyak rumput mereka makan setiap hari?”

“Yang mana, yang putih atau yang hitam?”

“Yang putih.”

“Ah, yang putih makan sekitar empat pon rumput setiap hari.”

“Dan yang hitam?”

“Yang hitam juga.”

 

“Dan berapa banyak bulu yang mereka hasilkan setiap tahun?”

“Yang mana, yang putih atau yang hitam?”

“Yang putih.”

“Ah menurut perkiraan saya,  yang putih  menghasilkan sekitar enam pon bulu setiap tahun kalau mereka dicukur.”

“Dan yang hitam?”

“Yang hitam juga.”

 

Orang  yang  bertanya  menjadi  penasaran.  “Bolehkah   saya bertanya,  mengapa  engkau  mempunyai  kebiasaan  yang aneh, membedakan dombamu menjadi domba putih dan hitam setiap kali engkau  menjawab pertanyaanku?”

Gembala itu menjawab, “Tentu saja. Yang putih adalah milik saya.”

“Ooo, dan yang  hitam?”

“Yang hitam juga,” kata gembala itu.

 

Manusia dengan pikirannya, suka membuat pemisahan-pemisahan “yang bodoh”, pengkotakan-pengkotakan yang tidak perlu. Padahal, hakikatnya sama. Satu. Semoga kita termasuk orang yang diberi rohmat oleh Allah sehingga bisa melihat semua itu dengan paripurna.

Semoga bermanfaat.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment