Hayya ‘Alal Falah

falahTerus berlari, ingin serba cepat, itulah ciri khas kehidupan modern. Kejarlah daku, kau kukejar. Di bangku sekolah misalnya, orang berlari agar cepat lulus. Di tempat kerja, manusia berlari agar cepat naik pangkat. Di pasar orang berlari merebut keuntungan yang besar. Di jalanan orang berlari mengejar waktu. Di rumah pun berlari karena dikejar-kejar target. Ujungnya mudah ditebak, kehidupan jadi mudah lelah. Lebih dari sekadar lelah, energi untuk hidup segar bugar di hari ini jadi hilang. Kreativitas dan vitalitas hidup lenyap ditelan ketergesaan.

Dulunya, banyak orang berasumsi semakin keras seseorang berusaha, maka semakin bagus hasilnya. Semakin cepat semakin baik. Ini yang menyebabkan orang berkejaran dan berlari. Sekarang, setelah bumi ini dihiasi cuaca ekstrim, angka bunuh diri menaik, dibarengi angka perceraian yang melonjak, WHO meramalkan sakit mental akan sangat mengkhawatirkan di tahun 2020. Kini, sudah saatnya merenungkan ulang hidup yang berlari, sekaligus mulai mempelajari seni berhenti. Pause!

Seni berhenti bukan berarti tidak melakukan apa-apa, melainkan mendalami wajah kebahagiaan yang lebih dalam. Seni berhenti bukan berarti pasif, melainkan aktif di dalam diam. Mengambil jarak sejenak. Instrospeksi, mensyukuri dan memperbaiki diri. Di tingkat berlari, kebahagiaan berarti terpenuhinya keinginan. Padahal keinginan tak pernah berhenti. Setelah mendapat ini, ingin itu. Setelah dapat itu, ingin yang lain lagi. Begitu terus. Karena keinginan berlari, maka hidup pun berlari. Di tingkat berhenti, kebahagiaan berarti mengembangkan rasa berkecukupan di dalam diri. Mensyukuri yang telah didapat dan menikmatinya dengan hikmat. Berkecukupan membuat seseorang mudah mengalami keterhubungan. Terhubung kepada Tuhan, terhubung kepada sesama manusia dan terhubung dengan alam sekitar. Dan keterhubungan inilah sumber banyak keberlimpahan.

Alkisah, suatu hari seorang murid kelelahan, sekaligus dikunjungi kejenuhan menghadapi hidup. Karena lelah dan jenuh, saat ia melakukan tugas sehari-hari berbelanja ke toko terdekat, kepada pemilik toko ia minta bahan-bahan yang terbaik. Dengan spontan pemilik toko menjawab: “everything is the best“. Begitu mendengar jawaban bahwa semuanya adalah yang terbaik, sang murid ini mengalami pandangan benderang. Pencerahan datang.

“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (QS AL-Baqarah 269).

Inilah wajah kebahagiaan kehidupan yang lebih dalam. Bila makhluk menderita mengira bahwa hidup penuh kekurangan, makanya mereka berlari dan berkejaran. Di tingkatan yang lebih dalam lagi kehidupan mengalir lengkap dengan berkah-berkah terbaiknya. Begitulah pandangan orang-orang tercerahkan. Burung-burung bernyanyi, rumput hijau, gemercik air, bunga yang mekar, ikan yang berlompatan, anak-anak yang bernyanyi, semuanya bercerita aliran kehidupan yang serba terbaik. Sakit adalah masukan bahwa ada pola hidup yang perlu diperbaiki. Gagal adalah pelajaran tentang batas-batas diri. Dicaci adalah bahan untuk hidup lebih rendah hati. Dengan kata lain, semua adalah yang terbaik. Bila ini cara pandangnya, kebahagiaan sangat dekat dengan seni mengalir. Saat seseorang mengalir, dengan mudah ia mengalami pengalaman kebersatuan. Di tingkat ini, kebahagiaan adalah aroma kopi bagi yang sedang minum kopi, indahnya matahari terbit bagi yang sedang menikmati matahari terbit, nyanyian anak-anak bagi pencinta anak-anak.

Akhirnya diperlukan cara berhenti untuk menikmati hidup ini, sebelum mengalir kembali bersama yang terbaik dari alam ini. Diantara demikian banyak cara berhenti, yang paling banyak dibutuhkan saat ini adalah cara hidup penuh syukur. Berhenti untuk bersyukur. Berhenti dengan bersyukur. Bukan berkejaran. Diantara demikian banyak seni berhenti, yang paling banyak dibutuhkan saat ini adalah seni hidup bahagia. Bukan kesuksesan. Dulu banyak orang meyakini, sukseslah yang membuat seseorang bahagia. Sekarang mulai banyak yang sadar, kebahagiaanlah yang membuat orang sukses. Dan ajakan untuk berhenti, seni untuk menikmati, jeda dari hiruk-pikuk sejenak, ternyata ada 5 kali ajakan sehari di kehidupan ini. Perhatikanlah panggilan adzan. Sebenarnya dibalik panggilan Hayya ‘Alal Falah, setelah Hayya ‘Alash Sholah, adalah ajakan untuk berhenti. Ajakan untuk menikmati kehidupan ini. Seni hidup bahagia. Bagaimana tidak? Kebahagian apalagi sih yang dicari, selain bisa menghadap dan bercakap-cakap dengan Allah Sang Maha Pencipta ini, terus menikmati indahnya kehidupan saat ini? Amazing, bukan? Subhanallah….
Semoga bermanfaat.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment