EMPAT L

Huruf LSebagian khalayak malah sudah mengenal 4L, tak lain adalah Loe Lagi Loe Lagi. Idiom yang baru ngetrend di dunia gaul merujuk pada yang itu – itu saja. Ke Mall ketemu orang – orang itu lagi. Ke pengajian orangnya ya itu – itu saja. Ke fitness, berjumpa dengan orang itu – itu juga. Kegiatan gotong – royong yang kelihatan pun itu – itu juga. Seolah kemana pun kaki melangkah, kemana pun muka menghadap bertemu dengan wajah – wajah yang sama. Dunia serasa sempit. Maka, tersebutlah istilah 4L sebagai representasi sebuah tanda kebosanan, kesempitan atau kebanggaan, saya kurang memahami. Begitulah gerangan adanya.

Berbeda dengan maksud 4L di atas, kali ini saya mencoba ‘mencuri’ istilah itu untuk memberikan semacam sentuhan baru dari barang yang lama. Mudah – mudahan dengan sentuhan itu ada sedikit kegunaan untuk menyegarkan kembali memori – memori kita. Terlebih bagi mereka yang haus akan indahnya jalan – jalan kehidupan dan mengetahui betapa mulyanya lorong – lorong ajaran agama ini. Kalau pun tidak, setidaknya idiom ini berguna untuk bahan pembelajaran. Juga tolok ukur dimana posisi kita berada dan seperti apa kualitas kita ini sesungguhnya. Tanpa harus malu ketahuan, sebab kita sendirilah yang menilainya. Bukan orang lain. Kitalah yang tahu. Bukan teman, orang tua atau pun yang lainnya lewat tulisan ini.

Mestinya setiap telinga pernah mendengar sabda Rasulullah SAW yang satu ini atau dengan redaksi semisalnya. Dari Abu Huroiroh sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Ketika manusia mati, maka terputuslah darinya semua amalannya kecuali dari tiga perkara yaitu dari sodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang solih yang mau mendoakan kepadanya.” (Rowahu Abu Dawud Fii Kitaabu al-Washooyaa)

Nah, tiba – tiba saja saya tersadar arti pentingnya hadits ini. Biasanya saya hanya memandang hal ini sepintas lalu dengan memberi interpretasi sederhana saja, kalau pengin amalannya terus mengalir walau sudah mati, ya kerjakan tiga hal itu. Berinvestasilah untuknya. Entah kenapa saya merasakan gemuruh hal lain dibalik semua ini. Ketemulah saya dengan adanya teori dasar kebutuhan manusia dalam hidup ini. Bahkan dalil ini menuntun manusia mencapai derajat tertingginya, yang istilah modernnya disebut leaving a legacy (meninggalkan warisan). Kebutuhan dasar manusia ada empat yaitu berupa kebutuhan fisik untuk hidup (to live), berikutnya kebutuhan social emosional, saling kasih – sayang dan memperhatikan (to love), kemudian kebutuhan mental (to learn) dan terakhir adalah kebutuhan meninggalkan warisan (to leaving a legacy). Inilah yang saya sebut 4L: to live (untuk hidup), to love (untuk mencinta), to learn (untuk belajar) dan to leaving a legacy (meninggalkan warisan).

4L adalah kebutuhan manusia untuk menemukan makna dibalik apa yang dilakukannya sekarang. Dalam pekerjaan atau maisyah misalnya, jika seseorang bekerja hanya untuk mencari nafkah semata, untuk memenuhi kebutuhan fisiknya saja, maka orang itu berada di tingkat pertama yaitu to live. Bekerja untuk hidup. Tanpa ekspresi. Tidak bisa menikmati. Namun jika seseorang itu bekerja bukan semata – mata karena uang, tapi karena perlu juga lingkungan bergaul dan sosialisasi, maka yang begini ini termasuk kategori ke dua yaitu to love. Perlu ruang untuk berekspresi. Butuh teman untuk show up. Mulai bisa menikmati dan mensyukuri. Adapun yang ketiga to learn adalah orang – orang yang tidak hanya bekerja untuk mencari penghasilan dan lingkungan social yang memadai, tetapi membutuhkan tantangan dan kesempatan untuk terus belajar dan belajar. Tanpa henti. Suka situasi ketidakmapanan yang penuh dengan tantangan. Sebab dengan begitu ia bisa terus belajar dan mendapatkan kepuasan. Banyak syukur tapi masih bersifat pribadi.

Dan tingkatan keempat, tertinggi, yaitu bekerja dengan bersungguh – sungguh, sehingga menghasilkan sumbang sih, baik barang maupun jasa, yang  bisa mensejahterakan orang lain. Yang dilakukan membuat orang lain menjadi lebih baik, lebih produktif, lebih sukses, lebih maju, lebih bahagia dan seterusnya. Apapun yang dilakukan dimaknai dalam konteks membantu orang lain untuk sejahtera dan bahagia. Leaving a legacy inilah yang yang begitu menggairahkan, memberikan kepuasan dan membuat keberadaan manusia jauh lebih lama dan bermakna, melebihi usia yang telah diberikan Allah kepadanya. Kebaikan – kebaikanya terus mengalir. Kondisi ini menunjukkan keadaan syukur yang pol dan banyak berderma. Dan ini bisa dilakukan setiap orang lewat jalan kerja apa saja. Tak pandang bulu.

Ada cerita menarik sebagai tautan simpel tingkat empat ini, tentang seorang kakek yang tua – renta, ketika sedang asyik menanam pohon mangga di halaman rumahnya. Melihat hal itu tetangganya keheranan dan bertanya, “Apakah Bapak berharap dapat makan buah mangga dari pohon ini?”

Si kakek menjawab, “Memang tak mungkin, mengingat umurku yang sudah lanjut sekarang. Tapi saya telah menikmati banyak buah mangga yang ditanam orang lain. Saya hanya mencoba untuk membalas budi dengan memberikan sesuatu kepada generasi berikutnya dan orang – orang yang akan datang.”

Inilah gambarannya dalam dunia kerja.

Lebih jauh lagi, dengan kerendahan diri dan kejernihan hati, kita bisa menerawang apa maksud dari sabda Rasulullah SAW dalam hadits di atas dalam konteks pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Tak lain adalah mengajak semua manusia untuk menyadari bahwa keberadaan kita sekarang karena kebaikan orang – orang terdahulu. Rasulullah SAW mengajak setiap diri menjadi yang terbaik, dan meletakkannya sebagai kebutuhan hidup. Tidak asal. Sesuatu yang seharusnya digapai. Melewati anak tangga 4L ini. Banyak hal yang kita dapat adalah pemberian dan warisan para pendahulu. Maka, akan sangat timpang dan menyedihkan jika sekarang kita membalasnya dengan satu kejelekan. Apalagi ditambah dengan sikap ketidakpedulian. Semakin menambah dalam kenelangsaan. Karena di sinilah letak kualitas manusia sebenarnya. Bukan ditentukan pada saat masih hidup, tetapi diberi bobot setelah meninggalkan dunia ini, menghadap Yang Maha Kuasa.

Dengan demikian, tentu saja 4L ini juga berlaku dalam hal kita menetapi agama. Namun, sebagaimana saya sampaikan di awal, tak perlu ngacung dan merasa ‘kenekan’/tersinggung. Sebab bagaimanapun ini hanya istilah saja, tak lebih. Bahkan, Anda pun berhak komplen jika tidak setuju, “Dasar Lu Lagi Lu Lagi!” Atau, bahkan mendelete-nya sekalian. Ha, ha, ha,,,,…

Semoga bermanfaat.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment