Dongeng

dongengSaya termasuk anak generasi dongeng. Bukangenerasibaca. Jugabukangenerasi multimedia.  Sebab semasa kecil sering sekali diberi dongeng oleh Bapak. Ya, menurut saya, Bapakkulah ahlinya cerita. Walaupun ceritanya itu-itu saja, tetapi saban malam selalu rindu untuk mendengarkan sebagai pengantar tidur. Kadang kami bertiga ( dengan dua kakak saya) harus mijitin Bapak sebagai upah dongeng. Tetapi, tetap saja menarik untuk ditunggu acara kudapan malam itu. Mulai dari Kancil nyolong (mencuri) timun, Timun mas, Uwak-uwik, Jembu thela-thelu, Ande-ande Lumut dan serial Kancil lainnya. Mungkin tidak semua Anda tahu, karena itu cerita di rumpun kami.

Tutur-tinular tersebut masih saya kembangkan sampai sekarang kepada anak-anak saya. Namun saya melakukan sedikit modifikasi di sana-sini. Ceritanya tidak saya adop seluruhnya dari Bapak. Dan juga jalan ceritanya tidak monolog, tetapi berupa dialog. Selain itu juga ada cerita-cerita baru, seperti cerita Nabi, para sahabat atau cerita lain dari quran dan hadist, yang tidak saya dapatkan dulu dari Bapak saya. Bahkan tak jarang juga ada kreasi baru yang kami coba ciptakan bersama anak-anak kami. Kadang saya juga meminta mereka untuk bercerita tentang harinya atau mengulas cerita kemarin. Dan ini sungguh mengasyikkan.

Hampir setiap malam (kalau tidak pas dinas), saya bisa menemani anak saya tidur sehingga acara mendongeng bisa kami lakukan. Jika saya berhalangan, istri saya akan menggantikannya membacakan cerita dari buku sebagai pengantar tidur mereka. Jadilah ini sarana komunikasi bagi kami untuk saling kontrol dan memperhatikan.

Rupanya, kebiasaan mendongeng ini berpengaruh besar terhadap perkembangan jiwa saya. Proses ini berpengaruh besar terhadap sikap bagaimana harus mendengarkan. Dan ternyata sebagian besar kehidupan ini diawali dari proses mendengar ini.

Kita sering kali mendengar bahwa quran itu berisi 3 hal, perintah, larangan dan cerita. Lebih jauh lagi, ternyata 2/3 dari isi quran adalah berupa cerita-cerita yang tak lain sebenarnya adalah sebuah dongeng yang berasal dari Allah. Hal ini akan menarik lagi jika kita kaitkan dengan sistem pendengaran dalam berkomunikasi. Allah berfirman; Dan janganlah kamu mengerjakan apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (Al-Isro : 36).

Allah berfirman: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu.” (QS at-Taghobun 16)

Ranking pertama jalur untuk membuka komunikasi adalah lewat pendengaran. Sering kita telah mendengar sesuatu tapi belum pernah melihatnya atau tahu barangnya.  Pendengaran adalah jendela pertama dalam berkomunikasi. Jadi Allah telah memberikan petunjuk buat kita semua kenapa Al Quran berisi begitu banyak cerita. Ini adalah stimulan, agar kita bisa menggunakan pendegaran kita dengan baik. Ini adalah perangsang agar informasi itu masuk ke dalam hati. Dengan digiring melalui cerita orang dilatih untuk bisa mendengarkan dengan sempurna. Selanjutnya akan menangkap maksud cerita tersebut secara utuh dan mempengaruhinya. Tak jarang bahkan memberikan dorongan yang hebat. Seolah mendapat inspirasi dan motivasi yang sangat besar sehingga bisa merubah kehidupan. Yang dalam kehidupan kita itulah yang disebut hidayah dan keimanan.

Dan kita semua masih ingat sabda Nabi SAW, “Agama itu nasehat, agama itu nasehat, agama itu nasehat.” Dengan bahasa apa nasehat diberikan? Adalah dengan bahasa lisan. Adalah dengan percakapan yang akan ditangkap oleh telinga. Nasehat tak lain adalah cerita – dongeng sang penasehat/penceramah kepada rukyah/pendengarnya. Lagi-lagi telinga berperan besar dalam hal ini. Makanya sahabat Ali mengingatkan; Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang berkata.

Jadi kalau dibalik sebagai kesimpulan uraian di atas, Allah telah menciptakan sistem komunikasi yang rapih dengan menempatkan telinga sebagai anak tangga pertama. Oleh karena itu, Allah memberikan cerita-cerita yang banyak kepada manusia di dalam kitabnya. Dan Allah menciptakan jalur nasehat sebagai  peramutan agama. Maka, latihlah betul-betul telinga kita dengan benar.

Diriwayatkan dari Abu ad-Darda’ bahwa dia berkata, ”Perlakukan secara adil kedua telingamu dalam kaitannya dengan mulutmu. Ketahuilah bahwa engkau diberi dua telinga dan satu mulut itu artinya, engkau mesti lebih banyak mendengar daripada berbicara.” (Al-Bahr Ar-Ra’iq hal 68).

Nah akhirnya, jadilah pendongeng yang baik atau pendengar dongeng yang baik. Jangan seperti saya yang suka ditegur sama anak saya karena nglantur ceritanya. Sebab sebelum ceritanya selesai, mak liyer….ngantuk. Akibatnya, ngomongnya tak terkontrol. Ngaco, seperti tape recorder yang kusut kasetnya.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment