Doa (2)


“Kadar keimanan bisa diukur dari tingkat keyakinan kita akan terkabulnya doa kita masing – masing.”

berdoaSetidaknya saya menerima tiga email yang meminta penjelasan lebih jauh sepenggal pernyataan yang saya sampaikan di kopdar akhir bulan kemarin. Pernyataan itu kurang lebih seperti ini bahwa kadar keimanan bisa diukur juga dari tingkat keyakinan kita akan terkabulnya doa kita masing – masing. Sebenarnya ini hanya masalah gaya bahasa saja. Tak ada yang baru dengan kalimat itu. Dalilnya pun masih sama yang itu – itu juga. Saya yakin semuanya telah mendengar dan mengkajinya. Hanya saja saya melihat dari sisi lain. Ada fenomena, ada fakta dan ada ayat yang bertautan karenannya.  Saya hanya mencoba merangkum itu dalam kata untuk lebih mengena di dada. Untuk apa? Tak lain untuk nasehat dan perkeling diri ini semata. Jadi, mohon maaf kalau ternyata yang lain merasa terganggu karenanya.  Dan lewat tulisan ini saya mencoba memberikan penjelasan kerangkanya.

Saya mendapatkan fenomena menarik sehubungan dengan kegiatan ibadah bersama yang sering kami lakukan, walau cuma sebulan sekali. Banyak orang yang tampak mulai tidak khusyu’ dalam berdoa. Sambil tengak – tengok, sambil ngobrol, dibarengi mata berselancar kemana suka dan posisi doa yang terkesan santai, kalau tidak boleh dibilang gak pantes.  Dari gejala ini, saya mencoba menggali lebih jauh apa yang menjadi akar masalahnya. Tentunya ini tidak 100 % benar, sebab banyak pengamatan yang mengandung kesalahan karena banyak sebab lain yang mempengaruhinya.  Penulusuran saya mendapatkan dua kubu yang berbeda dalam berdoa. Saya menjumpai banyak orang yang kelihatan lelah berdoa. Sudah merasa berdoa panjang dan lama, tetapi belum terkabul juga. Sudah merasa berdoa pol – polan, tapi belum ada hasilnya. Di kubu lain saya mendapatkan banyak orang yang malas berdoa. Doa hanya sebentar – sebentar saja. Kayaknya hanya pemantes. Seakan tak tahu lagi harus berdoa apa. Berdoa hanya dilakukan untuk memenuhi ritual saja. Habis sholat ya doa. Dua kelompok ini sebenarnya sama saja. Pokok masalahnya adalah banyak yang berdoa tetapi tidak punya keyakinan lagi akan terkabulnya doa itu.

Inilah maksud perkataan saya di atas. Kalau kita semua berdoa tetapi tidak punya keyakinan doa kita bakal terkabul itu adalah kesia-siaan. Lain halnya dengan orang yang berdoa, akan tetapi yakin bahwa doanya akan terkabul adalah orang yang benar – benar telah menghayati keimanan yang bersemi di dadanya. Sekarang bisa diambil kesetaraannya, kalau kita punya keyakinan bahwa setiap doa kita akan dikabulkan oleh Allah berarti kita memiliki keimanan yang kuat. Orang tersebut akan melakukan doa dengan benar, cara yang baik, khusyu sebagai cermin akan keyakinan yang mantap. Karena yakin doanya akan terkabul. Selain itu, adalah bukti tumbuhnya keimanan yang ngremboko dalam dirinya walau hanya sekedar berdoa. Karena hanya bagi orang  – orang yang penuh keyakinan dan punya keimanan yang kuatlah yang memahami betul bahwa doa adalah hal yang crusial dalam beribadah ini. Doa adalah otaknya ibadah, hal yang paling mulia di mata Allah. Mari kita simak beberapa atsar berikut.

Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Tuhanku tidak mengindahkan/memperdulikan kalian, kalaulah bukan karena doa – doa (ibadah/keimanan) kalian.’ (Al – Furqon 77).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan do’a dari seseorang yang lalai dan tidak serius” (HR. Tirmidzi).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Malu dan Maha Pemurah. Allah malu jika ada seseorang yang menengadahkan kedua tangan kepada-Nya tapi kemudian menolaknya dengan tangan hampa” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Doa seorang hamba akan tetap dikabulkan selama tidak berdoa untuk hal yang dilarang (berdosa) atau untuk memutus tali silaturahmi dan selama tidak terburu-buru, dikatakan : wahai Rosulullah, apa yang dimaksud terburu-buru (dalam doa)? Beliau menjawab : yaitu perkataan : “Aku telah berdoa akan tetapi aku tidak melihat akan dikabulkan,” maka dia akan merasa letih kemudian akan meninggalkan doa.” (HR Muslim)

Seorang tabi’in pernah mengatakan, “Sungguh, aku tahu kapan do’aku akan dikabulkan”. Mereka bertanya, “Bagaimana itu bisa?” Ia menjawab, ”Jika hatiku telah khusyuk, kemudian badanku juga ikut khusyuk, dan akupun mengalirkan air mata. Ketika itulah aku mengatakan do’aku ini akan dikabulkan”.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Tahukah kalian bagaimana seharusnya seorang muslim berdo’a?” Mereka bertanya, “Bagaimanakah itu wahai Imam?” Beliau menjawab, “Tahukah kalian bagaimana seseorang yang berada di tengah gelombang lautan, sementara ia hanya memiliki sebatang kayu, dan iapun akan tenggelam? Kemudian orang ini berdo’a dengan mengatakan, ‘Ya Rabbi, selamatkanlah aku! Ya Rabbi, selamatkanlah aku!’ Maka demikianlah seharusnya seorang muslim berdo’a (kepada Allah).

Nah, sesuai pernyataan saya di awal, tidak ada yang baru dalam masalah ini. Hanya sebuah hentakan kecil untuk mengisi pori hati keimanan ini.

Semoga bermanfaat.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment