Best Seller’s

best sellersKemarin menyempatkan diri membawa keluarga kembali mengunjungi Gramedia Teko – Teras Kota BSD. Lama rasanya tidak ke sana. Ada hal yang menarik di etalasi masuknya. Terpampang dua meniken besar foto dua pengusaha terkenal Indonesia, yaitu Khairul Tanjung – Bos Mega Group – dan Dahlah Iskan, Menteri BUMN sekaligus Bos Jawa Pos di samping buku jajanannya. Khairul Tanjung bercerita si anak singkong yang sukses sebagai konglomerat, sedang Dahlan Iskan dengan seabrek mimpi dan ganti hatinya. Dan buku tentang dua-duanya masuk dalam kelompok buku best seller’s. Benarkah? Padahal, 3 bulan yang lalu juga di situ posisinya. Sekarang pun tidak berubah. Terus, saya perhatikan jarang pengunjung yang nyamper dan membelinya. Tapi kok best seller’s ya? Ah, itu metode dagang.
Seorang teman, yang kebetulan seorang doktor ilmu statistik, pernah meneliti fenomena ini. Ia ingin tahu, dalam karier sebagai seorang penulis atau penerbit, sudah berapa buku yang diterbitkan dan menjadi “best seller’s“. Ternyata hasilnya, hanya 30% buku yang diterbitkan berhasil menjadi best seller’s, 40%-nya biasa-biasa saja. Sisanya, 30% lagi, justru babak belur alias tidak laku. Sang peneliti berteori bahwa 30% yang gagal itu perlu dan mutlak ada. Hanya gara-gara itulah, akan berhasil menerbitkan 30% yang best seller’s. Kata dia, semakin tinggi statistik kegagalannya, semakin tinggi pula keberhasilannya. Intinya, kegagalan adalah saudara kembar kesuksesan. Harus diakui, kegagalan itu memang perlu. Karena dari kegagalan itu, orang belajar banyak. Naluri akan terasah semakin tajam. Dan membuat seseorang semakin berani masuk ke inovasi-inovasi baru. Kegagalan juga membuat bijak. Kalkulasi dan estimasi semakin akurat. Cara berpikirpun meningkat semakin rinci, detail dan teliti.

Richard Farson dan Ralph Keyes, penulis buku Whoever Makes The Most Mistakes Win, menuturkan, walaupun semua orang tahu bahwa kita harus belajar dari setiap kesalahan dan kegagalan, kebanyakan orang justru kemudian menghindari kesalahan dan kegagalan. Ironisnya, belajar dari kesalahan dan kegagalan tidak jarang membuat orang justru lebih hati-hati. Yang mereka lakukan adalah menghindari kesalahan dan kegagalan. Akibatnya, mereka menjadi safe player atau pemain yang mencari aman-aman saja. Apa yang gelap dan misterius menjadi ketakutan untuk dijelajahi. Maka, setelah itu, terjadilah gagal inovasi. Padahal, kesalahan dan kegagalan seringkali menjadi bibit inovasi. Jadi, jangan heran kalau inovasi itu memang mahal ongkosnya.

Menurut kedua penulis itu, karena kita terjebak menghindari kesalahan dan kegagalan, setelah kita bijaksana belajar dari kesalahan dan kegagalan, rute inovasi yang tersedia bagi kita pun menjadi sangat terbatas. Yaitu rute atau jalan yang kita buat seaman tadi. Lama-lama kita tidak lagi memiliki semangat untuk berbuat sesuatu yang revolusioner.

Sang doktor statistik itu, juga punya teori tentang tim bulu tangkis Indonesia. Dulu kita pernah berjaya dan menjadi juara dunia. Tetapi, setelah mengalami sejumlah kekalahan dan dikritik terus-menerus, mungkin manajemen bulu tangkis kita lalu mencari yang aman-aman saja. Mereka tidak berani mengubah manajemen menjadi revolusioner dan inovatif. Akibatnya, kita justru kalah terus, dan prestasi bulu tangkis kita malah semakin terpuruk. Apalagi tentang sepak bola kita. Wuih…!!! Para sesepuh menuturkan, hanya para juara yang memiliki nyali atau keberanian yang luar biasa. Banyak prestasi olah raga dicetak justru dengan jurus-jurus tidak biasa, yang risikonya sangat tinggi. Malah kadang nekat. Gagal atau tidak sama sekali. Uniknya, kemenangan spektakuler justru dicapai lewat cara-cara seperti ini.

Itu semua urusan bisnis, taktik dan strategi. Namun rasanya, demikian pula dalam beribadah, khususnya bangun malam, bagi mereka yang belum berhasil perlu sesekali nekat, untuk membangkitkan nyali dan masuk ke wilayah belantara sepertiga malam. Gagal coba lagi. Gagal bangkit lagi. Gagal usaha lagi. Sampai berhasil. Kita perlu belajar dari kesalahan dan kegagalan selama ini, agar jangan melakukan kesalahan yang sama. Ini hukum lama. Kiat dan strategi baru harus tercipta, jangan pula kita jadi takut berbuat salah dan gagal. Akhirnya tidak bisa bangun malam. Karena terkadang kesalahan dan kegagalan yang kita buat justru menunjukkan jalan baru yang revolusioner. Sehingga kita bisa menjual diri dan mendapat label best seller’s di hadapan Tuhan. Sesuai firmanNya:
Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohon ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (Adz-Dzariyat 17 – 18).
Itulah ciri-ciri pribadi yang taqwa. Ingin bukan?

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment