Anjing Mengonggong

anjing menggongongDalam pergaulan sehari – hari kita sering mendengar perkataan seperti ini,  ”Saya minta izin istri dulu, ya!” Terus teman – teman di sekitarnya, berkomentar sinis, ”Hah! Minta izin pada istri hanya untuk urusan begitu?” Atau pembicaraan lewat telepon, antara suami – istri.  Sang suami selalu mengucapkan bertubi – tubi kalimat, ”Ya,… ya,…. ya…dan ya!” Banyak yang terus berpikir macam – macam. Diantaranya melayangkan surat ke DKI – alias alamat klub para suami Di bawah Ketiak Istri. Sebab di mata sebagian orang, itu tidak masuk akal; dikit – dikit minta ijin istri. Atau manggut – manggut jika di depan istri. Alias gak bisa menolak bin bertekuk – lutut. Apakah benar seperti itu? Tentu tidak. Tidak 100 % benar, maksudnya.

Di dunia pewayangan ada lakon Petruk Dadi Ratu. Petruk adalah puna kawan, simbol rakyat jelata. Pengabdi sejati. Namun bisa mengobrak – abrik kahyangan dan menguasai singgasananya. Para dewa dibuat kocar – kacir, tak ada yang mampu menandinginya. Tak berkutik dibuatnya. Hukum dan peraturan dibuat terbolak – terbalik.  Seenak udelnya. Intinya berupa sindiran terhadap kekuasaan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kemapanan yang melenakan. Sewenang – wenang, korup, penuh kolusi dan nepotisme. Namun merasa baik terus, tak pernah merasa bersalah. Padahal telah menyengsarakan orang banyak. Dan akhirnya perlu didobrak, untuk mengembalikan ke tatanan yang benar. Jangan mentang – mentang dan jangan mumpung. Memang, kadang perlu usaha keras dan cara – cara radikal untuk mengembalikan ke jalan yang baik. Falyughoyyir biyadih – tak cukup dengan lisan.

Serupa dengan lakon di atas, Ketoprak Humor dalam salah satu episodenya, yang ditayangkan salah satu stasiun TV beberapa waktu dulu, mengambil moral cerita yang sama. Judulnya Marwoto Dadi Ratu yang mengupas mo-limo (mabuk, main, madat, madhon –main perempuan– dan maling). Namun tidak seperti biasanya, kali ini mo-limo dikupas dari sisi positifnya. Misalnya, main jangan dilihat judinya, tapi dilihat dari sisi kejelian dan ketelitiannya memainkan setiap peluang untuk jadi pemenang. Madat, jangan dilihat kemalasannya, namun dilihat bagaimana cara  menikmati setiap kesenangan dan kesempatan dalam hidup ini. Juga tentang madhon, jangan cuma dilihat gemar berpetualang seksnya. Orang yang madhon itu perlu rapi dan wangi. Penampilan harus ok. Begitu halnya mabuk, jangan dilihat ketidaksadarannya, tapi simaklah ”kejujuran”-nya saat berbicara blak-blakan, tanpa tedeng aling-aling. Tak ada rahasia. Jujur apa adanya. Adapun maling, sisi positifnya adalah menyadarkan bahwa di setiap rejeki yang diberikan Allah kepada setiap hamba, ada hak orang lain di sana. Amanah perlu dijaga, tapi jangan sampai pelit karenanya. Ternyata, di balik setiap “kejelekan” pun, masih bisa digunakan sebagai jembatan menemukan kembali kebaikan.

Sayangnya, manusia dipenuhi dengan ego. Dan sok tahu. Seribu alasan dibuat untuk menutupi suara hati. Cahaya kebaikan, pelita kebenaran padam. Dalih pembenaran selalu ada. Muncul begitu saja. Menggelora dan meraja.  Bukan mengembangkan sangka baik, tapi malah menumbangkannya. Mungkin kita perlu menyimak sedikit kisah kuno ini, layaknya dongeng penghantar tidur. Kisah Pygmalion, seorang pemuda pemahat patung dari Yunani. Dia disukai teman-temannya karena selalu berpikir positif. Membuang jauh pikiran jelek. Dia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik saja. Melihat lapangan becek, misalnya, ia berpikir, ”Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.” Juga, kala ada seseorang menawar patungnya yang bersikukuh tidak menaikkan tawaran, kawan-kawan Pygmalion berbisik, ”Kikir betul orang ini.” Tapi Pygmalion menenteramkan, ”Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih penting.”

Begitu pula kala ia melihat anak-anak mencuri apel di kebunnya, Pygmalion tidak marah, mengumpat, atau mencaci. Ia justru merasa iba. ”Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya,” katanya. Begitulah. Pygmalion tidak pernah melihat suatu keadaan atau orang lain dari sisi buruk. Ia selalu mencoba membayangkan hal-hal yang baik. Ia tak punya niat melihat orang lain menjadi sedih, dan sebaliknya justru membuat orang lain bahagia.

Suatu hari, Pygmalion mengukir sebuah patung kayu wanita, seukuran manusia. Pahatannya tampak halus. Wajah patung itu elok dengan tubuh yang menawan. Senyumnya pun manis. Benar-benar pahatan piawai. Seolah patung itu hidup, memiliki jiwa dengan kecantikan tersembunyi. Namun, lagi-lagi, teman-teman Pygmalion berkata, ”Ah, sebagus-bagusnya patung, itu cuma kayu. Bukan istrimu.” Tapi Pygmalion tetap memperlakukan karyanya itu layaknya manusia. Berkali-kali patung kayu itu dielus-elus dan ditatapnya, tanpa bosan. Rupanya, para dewa di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion. Untuk itu, mereka memutuskan menganugerahi Pygmalion dengan mengubah patung itu menjadi manusia. Akhirnya, Pygmalion hidup bahagia dengan istrinya, yang konon menjadi wanita tercantik di Yunani.

Ya, kalau saja semua orang berpikir seperti Pygmalion, barangkali dunia damai. Pentas “badut” di negeri ini tiada lagi. Dan 14 abad yang lalu, Rasulullah SAW berpesan dengan seksama. Sabdanya; “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau diam.” (Rowahu Bukhary) Berkata baik, itu tak mudah. Orang bisa berkata baik, kalau hatinya selalu dipenuhi sangka baik. Maka jika belum bisa melakukan hal itu, jalan terbaik adalah diam. Maksudnya melatih jiwa ini agar terhipnotis dengan sangka baik terus, hingga meluncurkan tak sepatah pun pedang – pedang kata kecuali penuh rasa dan makna. Papan, empan, adepan. Pahit madu. Memahami peran dan posisinya. Hasilnya, kalau ada kritik dan teguran akan diterima dengan lapang dada.

Kembali ke paragraf di atas, bukanlah kewajiban kita mengomentari urusan orang lain. Biarlah itu menjadi tafsir buta. Maknailah orang yang dikit – dikit minta ijin istri, adalah tipe orang yang memelihara komitmen berumah tangga. Sedangkan yang berkata; ya, ya, ya, adalah tipe lelaki yang suka menyenangkan pasangannya. Yang seharusnya dilakukan adalah menjadi kewajiban kita mengurus hati untuk selalu berbaik sangka. Tatkala mendengar, melihat dan merasakan setiap kejadian di lingkungan sekitar kita. Responlah selalu dengan baik, hingga kita yakin, ”anjing yang suka menggonggong biasanya jarang menggigit”. Jika menggigit juga? Itu nasib, bro! Mau apalagi?

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment