A’iinuu Aulaadakum

anakDi dalam Kitab Jami’ Al-Ausath, Imam Thobroni meriwayatkan sebuah hadits yang “asing”, jarang terdengar di telinga, tapi penuh makna, dalam kontek hubungan anak dengan orang tua.  Hadits yang dinarasikan oleh Abu Huroiroh itu cukup membuat diri ini “menderita” untuk tidak segera meresponnya. Sebab kalau tidak segera, alamat akan menderita sebenar-benarnya.

Nabi SAW bersabda; ”A’iinu aulaadakum ‘alal bir, man syaa’astakhroja al-‘uquuqo liwalidihi – Menolonglah kalian pada anak-anakkalian atas kebaikan, bagi orang yang berkehendak agar anak-anaknya tidak melukai (berani) kepada orang tuanya”. (Rowahu ath-Thobroni)

 

Makna tersurat (umum) dari hadits ini, senada dengan atsar-atsar yang lain adalah kewajiban orang tua untuk mengajari adab, membekali ilmu dan mendidik anak-anak mereka dengan baik dan benar. Nah, yang suka terlewat adalah makna tersirat (khususnya), yaitu bagaimana menolong anak-anak dengan perilaku sholeh dari kedua orang tuanya. Tidak hanya menyuruh mereka belajar. Tidak hanya mengirim mereka ngaji di pondok. Atau mengundang guru privat ke rumah. Menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap. Lebih dari itu. Selain memberi bekal yang baik, sebagai hak anak, juga dibarengi dengan teladan dan perilaku yang baik pula dari kedua orang tuanya. Mencari rezeki yang halal, melakukan pekerjaan yang baik dan benar, dan membelanjakan ke jalan yang benar pula. Itulah kunci sukses dalam pendidikan anak-anak.

Setelah mengembara, mencari-cari ke dalam lembah kitab dan sela-sela awan makna, akhirnya saya menemukan cerita menarik seiring spirit hadits di atas. Kisah yang saya temui dari kisah Khalifah Umar bin Abdu Aziz ini, cukup menggugah pemahaman dan jalan pencerahan dalam mendidik buah hati, wabilkhusus: bekal sebagai orang tua.

Kisah ini bermula ketika Abu Ja’far Al Manshur diangkat sebagai khalifah kedua Bani Abbasiyah menggantikan Khalifah pertama; Abul’Abbas Al-Safaah pada tahun 137 H. Pada hari pengangkatannya Muqatil bin Sulaiman datang dan menghadapnya di istana. Kemudian Al Manshur berkata kepada Muqatil, “Berilah aku nasehat, wahai Muqatil”.
Muqatil memberikan pilihan, “Ya amirul mukminin, nasehat dari apa yang aku dengar atau yang aku lihat?” Al Manshur menjawab, “Dari yang engkau lihat.” Muqatil berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memiliki sebelas anak. Ketika wafat, beliau meninggalkan uang delapan belas dinar. Untuk membayar kain kafan lima dinar dan untuk tanah liang kuburnya empat dinar. Sisanya sembilan dinar diwariskan kepada ahli warisnya.” Setelah jeda sejenak, kemudian Muqatil melanjutkan; “Khalifah Hisyam bin Abdul Malik (pengganti Umar bin Abdul Aziz, keduanya dari Dinasti Bani Umayyah), juga memiliki sebelas anak. Ketika beliau wafat, warisan yang diperoleh oleh masing-masing anaknya satu juta dinar. Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, pada suatu hari aku melihat salah seorang anak Umar bin Abdul Aziz bersedekah seratus ekor kuda untuk keperluan jihad fi sabilillah. Dan pada hari yang sama juga, aku melihat salah seorang anak Hisyam bin Abdul Malik sedang meminta-minta di pasar.”

Suasana hening sejenak, seolah waktu tak mau berlalu, sampai akhirnya Muqatil melanjutkan nasehatnya; Ketika itu, orang-orang bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz menjelang wafatnya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk anak-anakmu?” Beliau menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka takwa kepada Allah. Jika mereka menjadi orang-orang yang shaleh, maka Allah yang akan mengurus mereka. Jika tidak menjadi orang-orang yang shaleh, maka aku tidak akan menolong mereka untuk bermaksiat kepada Allah. “

Umar bin Abdul Aziz benar, takwa kepada Allah adalah sebaik-baik warisan orang tua untuk anaknya. Dan bagaimana bisa mewariskan takwa kepada anak turunnya kalau orang tuanya sendiri tidak bertakwa? Itulah yang terjadi dengan Hisyam bin Abdul Malik.  Dan rasanya itulah masalah umum yang tengah melanda. Merenungi situasi seperti ini, tak salah jika kita mengingat kembali firman Allah di dalam Surat An-Nisaa:9; “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka kuatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” Spirit ayat ini perlu segera ditegakkan di tiap-tiap diri orang tua. Dan kisah Umar bin Abdul Aziz bisa menjadi panutan.

Menyambung kisah di atas adalah kisah pertemuan Nabi Musa AS dengan Nabi Khidir AS. Pada kasus kedua, ketika Nabi Khidir AS memutar leher seorang bocah hingga tewas, adalah pelajaran berharga buat kita para orang tua. Demikian juga dengan kasus ketiga, ketika Nabi Khidir memperbaiki tembok yang roboh. Pelajarannya adalah ketakwaan dan keshalehan orang tua bermanfaat baik bagi diri mereka sendiri maupun menjadi penyebab anak-anaknya mendapatkan perlindungan dari Allah. Dengarlah penjelasan Nabi Khidir atas protes Nabi Musa yang tertulis di dalam Surat Kahfi 80-82; “Dan adapun anak muda itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu;…”

Melihat tumbuh kembang anak-anak seiring waktu, dengan globalisasi dunia yang terus menderu, ditandai tebaran gadget di mana-mana, terkadang terbersit kekhawatiran mendalam. Sudahkah kita terbebas dari kutukan Surat At Tahrim 6; “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,…” Dan apa jawaban yang akan kita berikan nanti? Semoga siap adanya. Dan sebelum terlanjur jauh jatuh, sembari membangun ketakwaan diri, segeralah meminta pertolonganNya dan berdoa kepadaNya, sebagaimana doa-doa yang telah diajarkan.

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai teladan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Surat Al Furqaan 74)

“Ya Allah jadikanlah anak-anak kami sholih, menjaga quran dan sunnah, faham agamanya, barokah hidupnya di dunia dan akhirat.”

“ Ya Allah senangkanlah mereka pada keimanan, dan hiasilah hati mereka dengan keimanan, dan bencikanlah nya mereka kepada kekufuran, kefasiqan dan penentangan dan jadikanlah mereka orang-orang yang rasyid.”

Mari bersama-sama: a’iinuu aulaadakum.

Semoga bermanfaat.

Be Sociable, Share!
Share this:

Leave a comment